Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo mengatakan, saat tengah melakukan tugas rutin memantau orangutan yang telah dilepasliarkan di Hutan Cagar Alam Jantho, Aceh, staf Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP) bertemu dengan Mongki. Orangutan betina tersebut dilepas di sana pada 2011.
"Mongki dilaporkan telah termonitor 2-3 kali setahun sejak dia dilepasliarkan. Namun kali ini tim pemantau lapangan menemukan sesuatu yang berbeda. Mongki terlihat sedang membawa bayi yang baru lahir," kata Sapto dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (10/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kini Mameh menjadi bayi orangutan kedua yang lahir di alam liar sekaligus menjadi bayi orangutan betina pertama dari hutan reintroduksi Jantho yang dikelola oleh SOCP," jelas Sapto.
Mongki pertama kali tiba di Pusat Rehabilitasi dan Karantina Orangutan SOCP di Batu Mbelin pada Januari 2010. Mongki disita dari seorang pengusaha di Meulaboh, Aceh, dengan keadaan leher terikat ke kandang di sebuah garasi mobil.
Setelah menjalani karantina dan rehabilitasi selama 1,5 tahun, Mongki kemudian dilepasliarkan ke hutan Jantho pada Juni 2011.
"Ini adalah berita yang fantastis. Kami telah bekerja keras di Jantho, secara bertahap membangun populasi baru Orangutan dan mempertahankannya. Tujuannya adalah menciptakan populasi liar yang sepenuhnya mandiri dan lestari atas spesies yang terancam punah ini," kata Direktur Program Konservasi Orangutan Sumatera, Ian Singleton.
Dua bulan lalu, tepatnya 11 September, SOCP dan BKSDA Aceh juga telah mengumumkan kelahiran bayi orangutan Sumatera pertama yang lahir di alam liar di Jantho. Bayi yang lahir dari orangutan betina dewasa bernama Marconi tersebut diberi nama Masen. Bayi orangutan ini diperkirakan sudah berusia sekitar 1,5 tahun pada saat pertama kali termonitor.
"Berita tentang kelahiran Masen pada September lalu merupakan dorongan nyata bagi pekerjaan kami di Jantho. Kami sangat senang dengan berita kelahiran Mameh ini, apalagi itu adalah betina pertama. Semoga sehat, bisa hidup lama, dan menghasilkan beberapa bayinya sendiri nantinya," ujar Supervisor Karantina dan Reintroduksi untuk SOCP, drh Citrakasih Nente. (asp/asp)











































