KPK, Kriminalisasi Tiada Akhir...

Sudrajat - detikNews
Jumat, 10 Nov 2017 07:08 WIB
Andhika Akbariansyah
Jakarta -

Sejak September 2017, ada dua pemimpin, tiga penyidik, dan seorang penyelidik KPK yang dilaporkan ke polisi dengan berbagai tuduhan. Mengulang pola lama setiap kali KPK menangani kasus korupsi yang melibatkan tokoh besar. Banyak yang menilai langkah tersebut sebagai serangan balik dari para pihak yang kasusnya sedang ditangani KPK.

Dua pimpinan KPK, penyidik, dan penyelidik dilaporkan ke polisiDua pimpinan KPK, penyidik, dan penyelidik dilaporkan ke polisi Foto: Andhika Akbariansyah

Merujuk masa lalu, pernah pula terjadi pimpinan dan penyidik KPK dijadikan tersangka dengan kasus yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Tak heran bila kemudian banyak pihak lantas menyimpulkan langkah hukum tersebut sebagai bentuk kriminalisasi.

Di era 2007-2009, pimpinan KPK Bibit R Samad menjadi tersangka karena menerbitkan surat cekal untuk Joko S. Tjandra, bos PT Era Giat Prima yang buron. Begitu juga dengan Chandra Hamzah yang menjadi tersangka karena menerbitkan surat permohonan cekal tertanggal 22 Agustus 2008 untuk bos PT Masaro Anggoro Widjojo.

Periode berikutnya, 2011 – 2015, giliran Bambang Widjojanto yang menjadi tersangka dan ditangkap polisi pada 23 Januari 2015. Dia dituduh menyuruh sejumlah saksi untuk memberikan keterangan palsu di depan sidang pengadilan Mahkamah Konstitusi, pada 2010. Sementara Ketua KPK Abraham Samad pada 9 Februari 2015 ditetapkan polisi sebagai tersangka pemalsuan kartu keluarga dan paspor milik Feriyani Lim.

Penyidik senior Novel Baswedan pun ditangkap polisi karena disangka menembak pencuri burung walet di Bengkulu pada 2004. Kasus ini pernah diungkap pada 2012 saat Novel menyidik dugaan korupsi oleh Kakorlantas Irjen Djoko Susilo.

Penetapan tersangka kepada ketiganya tak lama setelah KPK mengumumkan status tersangka gratifikasi terhadap Wakil Kepala Polri Komjen Budi Gunawan yang akan dipromosikan sebagai Kepala Polri.

Selain pimpinan KPK, sekitar 20 penyidik KPK pun tak luput dari ancaman menjadi tersangka. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Komjen Budi Waseso karena mereka belum mengembalikan senjata api milik polisi.



(jat/jat)