Polri: Otak Penyerang Pos Brimob Seram & Tentena dari Solo
Selasa, 31 Mei 2005 15:41 WIB
Jakarta -
Polri menduga kuat otak pelaku penyerangan pos Brimob Seram dan peledakan di Tentena Poso, berasal dari luar daerah konflik. Tepatnya, dari Solo, Jawa Tengah. Salah satu tersangka pelaku penyerangan pos Brimob Seram, Maluku, yang sudah ditangkap, yaitu Asep Jaja alias Dahlan, bukan orang Maluku atau pun Poso. Asep, pria asal Ciamis, Jawa Barat ini, didatangkan ke Maluku melalui Solo, Jawa Tengah. "Silakan ditebak sendiri, Solo itu sebagai kelompok mana," kata Kapolda Maluku Brigjen Pol Adityawarman dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Selasa (31/5/2005). Sebelumnya, Adityawarman mengatakan, pelaku pemboman di Pasar Tentena, Poso, dan pelaku penyerangan pos Brimob di Seram, Maluku, berasal dari kelompok yang sama. Sejauh ini Polri telah mengantongi tiga petunjuk adanya kesamaan pelaku teror itu. Adityawarman menjelaskan, motif aksi itu untuk memprovokasi daerah konflik. Provokasi dilakukan dengan menggunakan sentimen agama. Apakah tujuannya untuk membentuk negara Islam? "Ada kemungkinan. Tapi yang pasti ada kerangka global yang mengarah ke sana. Ini dibuktikan dari senjata pelaku ada jenis M-16 Filipina. Senjata itu tidak ada di Indonesia, kemungkinan dari luar negeri, dari Filipina Selatan," jawab Adityawarman.Kronologi Penyerangan pos BrimobAdityawarman menjelaskan, dari keterangan sementara yang dikantongi kepolisian, Asep, salah satu pelaku penyerangan, diberangkatkan ke Ambon dari Solo. Asep tiba di Ambon tangal 23 April 2005, 2 hari sebelum HUT RMS. Asep diorder ke Ambon oleh Ustad Arsyad yang kini masih buron. Tanggal 9 Mei 2005, pukul 13.00 WITA, dilakukan rapat di rumah Ustad Arsyad di lorong Kota Wailaha, Ambon. Rapat dipimpin oleh Abu Harun. Tanggal 10 Mei 2005, tersangka Abu Harun berangkat dari Ambon menuju Pulau Seram, sambil membawa perlengkapan senjata yang akan dipakai untuk menyerang pos Brimob tersebut. Tanggal 11 Mei 2005, tersangka Abu Zar berangkat dari Ambon menuju Pulau Seram sambil membawa perlengkapan senjata api yang akan dipakai untuk menyerang pos Brimob. Tanggal 12 Mei 2005, setelah senjata api berada di Pulau Seram, tiga orang eksekutor penyerangan menyusul, yaitu Andi, Jodi dan Abdullah.Tanggal 13 Mei 2005, tersangka Ikhlas dan Muklis menyusul. Tanggal 14 Mei 2005, tersangka Asep Jaja pun menyusul. Tanggal 15 Mei 2005, sekitar pukul 13.00 Wita, tersangka Abu Zar memesan speed boat yang akan digunakan untuk penyerangan kepada saksi Libit. Tanggal 16 Mei 2005, sekitar pukul 03.00 Wita, eksekusi dilakukan. Akibat penyerangan, lima anggota Brimob yang di-BKO dari Kaltim, tewas diberondong peluru tajam.Semula, polisi menduga motif penyerangan di Ambon untuk berjihad. "Tapi masih diperiksa apakah motif hanya jihad saja. Masih dicari motif lainnya," ungkap Adityawarman.
(dni/)










































