DetikNews
Rabu 08 November 2017, 19:22 WIB

Kasus Korupsi Pengadaan Alat KB, Kepala BKKBN Ditahan

Yulida Medistiara - detikNews
Kasus Korupsi Pengadaan Alat KB, Kepala BKKBN Ditahan Surya Chandra Surapaty (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Penyidik Kejaksaan Agung menahan Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty (SCS) hari ini. Dia ditahan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan alat KB tahun anggaran 2014-2015.

"Yang bersangkutan ditahan di rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung," ujar Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Warih Sadono, ketika dihubungi detikcom, Rabu (8/11/2017).



SCS ditahan sejak hari ini untuk 20 hari ke depan. Ia ditahan untuk memudahkan proses penyidikan dan mencegah upaya menghilangkan barang bukti.

SCS ditahan setelah diperiksa sebagai tersangka hari ini. Saat kasus ini terjadi, SCS, yang merupakan Kepala BKKBN, diduga memiliki peran mengintervensi dalam proses pengadaan serta tidak menghiraukan hasil kajian cepat BPKP yang sudah memberi peringatan dalam proses pengadaan.

Dalam kasus ini, penyidik telah menyita uang sebesar Rp 5 miliar, yang merupakan aset tersangka. Tidak tertutup kemungkinan aset lainnya akan disita penyidik.

"Uang Rp 5 miliar telah disita, iya tak menutup kemungkinan aset lainnya disita," ujar Warih.

Dalam kasus ini, Kejagung telah menetapkan 3 tersangka. Ketiganya adalah Direktur Utama PT Triyasa Nagamas Farma berinisial YW, Direktur PT Djaja Bima Agung berinisial LW, serta mantan Kasi Sarana Biro Keuangan BKKBN berinisial KT.

Kasus ini bermula saat Satuan Kerja Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KB-KR) pada Direktorat Jalur Pemerintah BKKBN Pusat melaksanakan kegiatan pengadaan Susuk KB II/Implant Batang Tiga Tahunan Plus Inserter pada 2014 dan 2015. Pagu anggaran saat itu sebesar Rp 191 miliar, yang bersumber dari APBN sesuai dengan DIPA BKKBN.

Saat proses pelelangan berlangsung, terdapat penawaran harga yang dimasukkan oleh para peserta lelang ke satu kendali, yakni PT Djaya Bima Agung. PT Djaya Bima Agung juga sebagai peserta lelang sehingga harga-harga tersebut adalah harga yang tidak wajar dan menyebabkan rendahnya tingkat kompetensi.
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed