Dua Anak NTT Kritis, Busung Lapar & Gizi Buruk Jadi KLB
Selasa, 31 Mei 2005 12:46 WIB
Kupang -
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menetapkan kasus busung lapar dan masalah kurang gizi maupun gizi buruk sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan penanganannya akan dilakukan secara terpadu. Para penderita yang menjalani perawatan di rumah sakit (RS) tidak akan dipungut biaya.Penetapan KLB disampaikan Jurubicara Gubernur NTT, Umbu Saga Anakaka, yang dihubungi di Kupang, Selasa (31/5/2005). "Karena jumlah penderita lebih dari satu orang dan terjadi di separuh kabupaten maka gubernur memutuskan untuk menetapkan sebagai KLB," kata Anakaka.Anakaka mengakui, 45 anak di enam kabupaten positif menderita penyakit busung lapar. 33.910 Anak lainnya kurang gizi dan 8.218 lainnya mengalami gizi buruk. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah menyusul terjadinya krisis pangan dan air bersih akibat kemarau panjang belakangan ini. Separuh dari para penderita busung lapar dan gizi buruk menjalani perawatan di RS dan selebihnya tidak dapat berbuat banyak karena keterbatasan ekonomi.Menurut Anakaka, tim Menko Kesra segera ke Kupang untuk selanjutnya melakukan survei ke kabupaten-kabupaten yang mengalami rawan pangan maupun KLB busung lapar. Hasil survei tersebut akan dibahas dalam rakor penaggulangan rawan pangan dan KLB.KritisSementara hasil pantauan di RSU WZ Johanis Kupang menunjukkan, dua pasien gizi buruk yang menjalani terapi kesehatan, dalam kondisi memprihatinkan. Keduanya terbaring lemas.Salah satu penderita bernama Serly Yohana Raha masih berusia 10 bulan. Penderita lainnya Deby Henukh (13), pelajar kelas 1 SLTPN 1 Oeluan, Kabupaten Rote Ndao.Kedua penderita berasal dari keluarga miskin dan penghasilan rata-rata di bawah Rp 100 ribu setiap bulan. Menurut Welly Raha, ibu kandung Serly Yohana Raha, sejak anaknya dalam kandungan, tidak pernah mengkonsumsi makanan bergizi. Bahkan setiap hari, anaknya hanya mengkonsumsi bubur encer. Tidak ada susu atau makanan tambahan padat gizi sebagai makanan pelengkap.Keadaan yang sama dialami oleh Deby Henukh. Meski telah usia remaja, ia hanya mengonsumsi nasi putih atau jagung yang direbus. Hendrik Henukh, ayah Deby, mengaku anak sejak balita jarang makan ikan atau sayur. Setiap malam, keluarga miskin ini terpaksa tidur di lantai beralaskan tanah.Kepala RSU Kupang, Hein Mooy, yang dihubungi di ruang kerjanya mengaku, hasil diagnosa membuktikan keduanya menderita gizi buruk disertai TBC. Para penderita, kata Mooy, berasal dari keluarga miskin dan tidak mampu membeli makanan bergizi bagi anak-anak mereka.Mereka berdua sudah dirawat lebih dari satu minggu. Saat ini tim medis berupaya keras untuk memulihkan mereka dengan cara memberikan makanan bergizi. "Jika terlambat diatasi, maka kemungkinan besar penderita akan mengalami busung lapar," kata Mooy.
(nrl/)










































