DetikNews
Rabu 08 November 2017, 10:14 WIB

Hari Kesehatan Nasional

Terpukulnya Bidan Kesih Saat Bayi Miskin Meninggal di Pangkuannya

Wisma Putra - detikNews
Terpukulnya Bidan Kesih Saat Bayi Miskin Meninggal di Pangkuannya
Bandung - Bidan Kesih sangat terpukul saat bayi prematur yang di pangkuannya meninggal dunia pada 2009. Si ibu bayi tidak berani merujuk ke RS karena tidak punya uang. Dari pengalaman itu, Kesih akhirnya membangun koperasi agar masyarakat punya penghasilan lebih guna mengakses kesehatan.

"Penolakan yang saya dapatkan, orang tua pasien tidak ingin membawa anaknya ke RS dengan alasan siapa yang akan memberinya makan saat di RS nanti? Siap yang akan memberi ongkos? Hingga anak tersebut meninggal, saya tidak bisa apa-apa dan merasa terpukul," kata Kesih saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Sehari-hari, Kesih di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kesih menilai tingkat derajat kesehatan berbanding lurus dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Akhirnya ia membuat koperasi sebagai wadah ibu-ibu PKK. Dengan adanya koperasi mereka akan mempunyai kekuatan untuk menjalin kemitraan dengan dunia luar khususnya di dunia usaha.

Saat ini anggota koperasinya sekitar 100 orang dengan berbagai unit usaha, salah satunya ternak domba. Sistemnya setiap beranak dibagi dua, dan kini domba yang dimiliki koperasi ada sekitar 28 ekor.

Setiap hari juga Kesih mengajak ibu-ibu kader PKK untuk mengambil beras satu sendok per rumah. Kadang pengambilan tersebut dilakukan seminggu sekali sampai beras sepenuh gelas.

Cara itu dilakukan Kesih tidak lain dan tidak bukan untuk membantu kesejahtetaan masyarakat.

"Setelah dikumpulkan beras tersebut dijual, hasil uang penjualannya digunakan sebagai dana sosial masyarakat, cara ini sederhana tetapi efektif untuk membangun kepedulian masyarakat. Saya yakin apa yang saya lakukan menjadi kebaikan," tutur Kesih.

Untuk kebutuhan pakan, 10 orang anggota yang tergabung dalam satu kelompok memiliki kewajiban untuk memberikan kebutuhan pakan dengan cara mencari rumput. Letak peternakan itu berada di Kaki Gunung Malabar dan lokasinya cukup jauh dari kediamannya yang berada di Kampung Darangdan, Desa Mekarjaya 01/01.

Butuh waktu sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor untuk sampai ke peternakan yang berada di Kampung Pasir Bentang 05/08. Dalam seminggu Kesih bisa 1-3 kali mengontrol ke peternakan tersebut tergantung dengan kebutuhan.

"Bagaimana kebutuhan saja, jelasnya seminggu sekali saya pasti kontrol kandang," tambahnya.

Bukan hanya peternakan domba, karena leading sector koperasi tersebut bergerak di berbagai bidang, seperti bidang pertanian penghijauan dan pengelolaan sampah plastik. Jika di sektor peternakan hanya dikelola oleh satu kelompok peternak, maka di sektor pertanian penghijauan ada lima kelompok dengan jumlah anggota 300 orang.

Selain bertani, kelompok pertanian memiliki kewajiban untuk melakukan penghijauan di lahan pertanian yang mereka garap.

Kesih mengungkapkan di bidang pertanian penghijauan pun tidak terlepas dari andil perusahaan BUMN. Perusahaan tersebut memberikan bibit pohon ke lima kelompok tani itu untuk ditanam dan kebutuhan perawatannya tiga tahun ditanggung perusahaan dan tahun selanjutnya di tanggung koperasi.cPohon-pohon yang di tanam jenis pohon keras seperti jabon, albasiah, mahono, kopi dan buah.

"Jumlahnya lebih dari 10 ribu pohon yang kami tanam dan tersebar di lahan pertanian anggota kelompok," ungkapnya.

Untuk lokasi lahan pertanian anggota koperasi merata di 13 Rukun Warga (RW) yang berada di Desa Mekarjaya.

Selain itu di bidang pengelolaan sampah plastik, Kesih memberdayakan masyarakat yang melakukan pelayanan di 13 Posyandu untuk mengumpulkan segala jenis sampah terutama sampah plastik yaang memiliki nilai jual. Tempat pengelolaan sampah tersebut berada di Posyandu Teratai yang berada di Kampung Peuntas 03/13.

"Sampah organik dapat dijadikan pupuk organik dan sampah plastik seperti bekas botol minuman mineral dapat dicacah dan di jual kembali," ujarnya.

Kesih menambahkan, koperasi mendapatkan bantuan mesin pencacah plastik dari BPJS Ketenagakerjaan.

"Bukan hanya itu, pengelola sampah juga didaftarkan sebagai anggota BPJS Ketenaga Kerjaan," terangnya.

Tujuh tahun berselang menjalankan koperasi, hampir disetiap kampung warga yang berada di Desa Mekarjaya menjadi anggota koperasi. Bukan tanpa kendala, dalam menjalankan roda koperasi Kesih kerap menemukan berbagai masalah, terutama budaya instan.

"Banyak masyarakat yang ingin mendapatkan keberhasilan secara instan tanpa ingin berproses, selain itu masih banyak warga yang belum bergabung ke dalam koperasi dari jumlah 1.700 jiwa warga Desa Mekarjaya, ada sekitar 300 orang lebih yang jadi anggota koperasinya," ujarnya.

Meski begitu, Kesih telah menjadi motor penggerak perekonomian desa dengan cara beternak, bertani, melakukan penghijauan dan menjaga kebersihan lingkungan dari sampah. Atas dedikasinya itu, Kesih meraih penghargaan Srikandi Award 2011.

"Bidan desa bukan hanya tenaga pelayanan kesehatan saja tapi harus memiliki multi profesi karena permasalahan masyarakat desa bukan hanya kesehatan, tapi perekonomian dan kesejahteraannya juga harus diperhatikan," pungkasnya.
(asp/asp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed