DetikNews
Rabu 08 November 2017, 09:36 WIB

Hari Kesehatan Nasional

Cerita Eni, Bidan yang Bantu Proses Persalinan di Atas Sampan

Arbi Anugrah - detikNews
Cerita Eni, Bidan yang Bantu Proses Persalinan di Atas Sampan Bidan Eni membantu persalinan di atas sampan. (Foto: dok. Istimewa)
Cilacap - Tahun 2004 merupakan tahun yang tidak bisa dilupakan oleh Eni Susanti (30). Kala itu ia menjadi bidan Puskesmas Kampung Laut, yang saat itu masih menjadi bidan pegawai tidak tetap di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Ketika itu dia mendapatkan kabar ada ibu hamil yang hendak melahirkan. Dengan segera, dia berupaya mendatangi ibu hamil tersebut.

Saat itu hari sudah malam. Ditambah guyuran hujan deras disertai petir menjadi tantangan sendiri bagi Eni untuk segera mengevakuasi ibu hamil tersebut menuju Puskesmas Kampung Laut.

Maklum saja, saat ini setiap persalinan memang diwajibkan dilakukan di puskesmas. Air pasang serta ombak yang besar menemani perjalanan mereka saat menuju puskesmas, yang hanya dapat ditempuh menggunakan perahu.

Namun, belum juga mereka sampai di puskesmas, sang ibu yang pembukaan kehamilannya tersebut sudah lengkap itu melahirkan di atas perahu. Saat itu Eni tak berpikir apa-apa. Ia langsung membantu persalinan sang ibu meskipun di luar ombak besar. Hujan disertai petir terus mengiringi perjalanan mereka.

Proses persalinan pun berjalan normal, sang bayi yang telah lahir ke dunia langsung dibalut dengan kain untuk menghindari dinginnya angin laut. Dengan sigap, salah satu perawat desa lainnya memeluk bayi tersebut untuk memberikan kehangatan.

Eni pun meneruskan proses pascakelahiran kepada sang ibu tadi. Perahu tersandar di depan Puskesmas Kampung Laut dan bayi itu langsung segera dibawa masuk ke dalam puskesmas.

Tapi Eni masih sibuk menyelamatkan sang ibu, yang saat itu belum bisa dievakuasi masuk ke puskesmas pascapersalinan. Hingga bidan dan perawat jaga di puskesmas ikut turun membantu Eni.

Cerita persalinan di atas kapal tersebut bukan hanya dialami Eni, yang telah menjadi bidan di Kampung Laut sejak 2009. Hampir seluruh bidan di Kampung Laut pernah mengalami hal tersebut untuk menolong ibu hamil ketika proses persalinan.

Setidaknya Eni menyebut sudah tiga kali membantu proses persalinan di atas perahu. Dia sangat sadar kehadirannya dan rekan-rekan tenaga kesehatan ternyata sangat dibutuhkan di lokasi yang segala aksesnya sangat sulit ditempuh. Sebab, letak Kampung Laut berada di tengah laguna Segara Anakan.

"Kadang-kadang kita berpikir bagaimana jika tidak ada kita di sini, di lokasi yang sulit dan terpencil," ucap Eni lirih saat berbincang-bincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Eni, yang merupakan warga Cilacap, sempat ragu saat mulai mendapat tugas untuk ditempatkan di Kampung Laut. Apakah dia mampu melaksanakan tugas mulianya itu di daerah yang banyak orang malah menghindarinya.

Apalagi ditambah pada tahun tersebut Kampung Laut masih gelap-gulita karena belum adanya aliran listrik yang masuk ke wilayah tersebut. Listrik baru masuk Kampung Laut pada 2012.

Sejak ditempatkan di wilayah tersebut, Eni beberapa kali ditempatkan sebagai bidan desa. Dia mulai mengenal dan terus berusaha berinteraksi dengan masyarakat sekitar, yang saat itu masih sangat sulit, keras, dan jarang mau diberi pendapat.

Apalagi untuk menghindari angka kematian ibu dan bayi, dia harus terus berupaya memberikan pemahaman terkait risiko kehamilan dengan terus memotivasi melalui penyuluhan-penyuluhan.

Saat itu, menurut dia, masyarakat Kampung Laut masih mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal. Seperti kepercayaan saat melahirkan agar menghadap arah tertentu sesuai mata angin. Bahkan tak mau dirujuk saat hari Sabtu.

Hal itu menjadi tantangan tersendiri baginya untuk terus memberikan pemahaman terkait risiko kehamilan dengan terus memberikan motivasi.

"Saat itu pendekatan ke masyarakat Kampung Laut lebih susah dibanding orang darat di luar Kampung Laut. Tapi saat ini sudah lebih terbuka. Memberikan keyakinan-keyakinan seperti itu sulit. Sekarang sudah banyak berubah, sudah mulai pada sadar. Kita terus lakukan kegiatan untuk edukasi ke masyarakat, posyandu lansia, penyuluhan-penyuluhan," ujar Eni.

Sebelum adanya kewajiban persalinan dilakukan di puskesmas, banyak warga yang meminta agar Eni mengunjunginya. Karena lokasi merupakan perairan dengan pulau-pulau, Eni jarang dapat memenuhi permintaan warga untuk mengunjungi pasien-pasien tersebut.

Ketika belum ada listrik--masyarakat Kampung Laut masih menggunakan lampu teplok--tak jarang muka bidan-bidan yang membantu proses persalinan hitam-hitam. Hal itu disebabkan asap yang keluar dari lampu teplok tersebut.

Sejak 2017, bidang-bidang itu mulai diangkat menjadi PNS. Dia pun kini tidak lagi bertugas di desa-desa, tapi sudah bertugas di puskesmas. Ia juga diperbolehkan pulang ke rumahnya di Cilacap bersama suami dan anak pertamanya.

Jumlah bidan saat ini sudah banyak. Di empat desa yang ada di Kecamatan Kampung Laut setidaknya terdapat dua bidan dan satu perawat. Alhasil, Kampung Laut zero angka kematian ibu melahirkan pada 2016.

Sementara itu, perawat di Puskesmas Kampung Laut, Eva Farida (34), memiliki cerita perjuangan bidan-bidan dan perawat yang bekerja di wilayah laguna Segara Anakan. Dengan segala keterbatasan, mereka mampu terus mengabdi membantu pasien-pasien, terutama ibu hamil, di wilayah itu.

"Dulu Puskesmas Kampung Laut masih berupa rumah panggung dengan dinding kayu. Tapi Alhamdulillah 2016 ini Puskesmas Kampung Lut sudah bagus," kata Eva.

Pilihannya mengabdi di Kampung Laut saat itu karena mengikuti pekerjaan sang suami, yang juga sama-sama bekerja di wilayah tersebut. Saat ini warga Kampung Laut sudah banyak yang lulus pendidikan sebagai bidan dan perawat dan ikut mengabdikan dirinya menjadi tenaga kesehatan di wilayah tersebut.

Namun untuk tenaga kesehatan, seperti ahli gizi, konseling, dan apoteker, belum ada. Mau tidak mau semua tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kampung Laut harus merangkap atau bahkan dapat menguasai bidang-bidang tersebut.

"Sekarang semuanya harus bisa. Secara prosedur memang harus sesuai tupoksi, tapi karena apoteker kita belum punya, ahli gizi, perawat gigi, konseling belum ada, jadi semua merangkap menjadi semua yang belum ada," tutur Eva.
(arb/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed