DetikNews
Selasa 07 November 2017, 20:21 WIB

Sekolah Gratis di Jateng ini Berhasil Cetak Siswa Berprestasi

Mega Putra Ratya - detikNews
Sekolah Gratis di Jateng ini Berhasil Cetak Siswa Berprestasi Foto: Dok Pemprov Jateng
Semarang - Pemprov Jawa Tengah mendirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) khusus untuk siswa miskin. Selama tiga tahun siswa tinggal di asrama dan seluruh kebutuhan dari seragam, buku, hingga uang saku ditanggung.

Sekolah ini bernama SMK Negeri Jateng. Saat ini SMK yang baru ada pada era Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ini ada tiga. Yakni di Kota Semarang, Kabupaten Pati, dan kabupaten Purbalingga.

Meski baru diresmikan pada 2 Juni 2014, SMK Negeri Jateng sudah meraih sejumlah prestasi. Di antaranya; peringkat 1 Ujian Nasional kategori SMK Negeri se-Jateng, peraih nilai 100 pada UN Matematika sebanyak tujuh siswa, Juara I Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) Kimia tingkat Jateng, dan Juara I Nasional Lomba Kewirausahaan BMC di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

"Lulusan terbaik meraih nilai UN 94,2. Sebanyak 42 persen lulusan dapat terserap industri/ usaha, sekitar lima persen ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Tentunya, peluang kerja langsung tersebut dapat penghasilan membantu ekonomi keluarga," kata Wakil Kepala Humas SMK Negeri Jawa Tengah Suyoto saat ditemui di kantornya di Jalan Brotojoyo 1 Kota Semarang.

Ya, ketika lulusan SMK lain kebingungan mencari kerja, di sini justru bingung memutuskan tawaran perusahaan. Pada wisuda lulusan pertama 17 Juni lalu, perwakilan belasan perusahan ikut hadir dan langsung menawarkan pekerjaan. DIantaranya jajaran direksi PT Hitachi, PT Astra, PT Komatsu, sejumlah perusahaan garmen, perusahaan suku cadang alat berat, dan pimpinan BUMD di Jateng.

Walhasil resepsi wisuda itu malah mirip ajang bursa kerja. Bukan para siswa yang mencari pekerjaan, namun justru pimpinan perusahaan-perusahaan besar di Jateng yang berebut tenaga kerja berkualitas. Kini SMK Jateng ini laris jadi lokasi studi banding sejumlah daerah di Indonesia yang ingin mendirikan sekolah serupa.

"Kami memastikan seluruh lulusan pertama tahun ini sudah mendapatkan pekerjaan. Yang kuliah juga banyak dan semuanya beasiswa ada di UGM, Polines, Unnes, STAN dan STEM Akamigas Cepu," kata Suyoto.

Produk bermutu tinggi yang dihasilkan SMK Jateng ini membuktikan bahwa siswa dari keluarga miskin mampu bersaing jika mendapat akses pendidikan setara. Pada saat pendaftaran, para guru melakukan verifikasi dengan kunjungan langsung ke rumah siswa. Hal ini dilakukan untuk memastikan siwa benar-benar dari keluarga tidak mampu.

"Seperti apa rumahnya, ekonomi orang tuanya, dan kemauan belajarnya," katanya.

Dalam satu kamar, di asrama tersebut diisi sekitar enam siswa dengan sistem among, pola asah asih asuh dengan sebaya dan juga adik kelas. Hal ini ungkap Suyoto untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan bagi para siswa. Hubungan antara siswa, pamong dan juga orang tua siswa pun terjalin dengan baik meski tidak setiap saat berkomunikasi.

"Mereka saling tahu, soalnya kan anak juga tidak boleh membawa HP, jadi kalau ada informasi apa melalui pamong. Anak boleh menghubungi orang tua melalui pamong," katanya.

Terdapat tujuh program studi keahlian di sekolah tersebut, yakni lima program studi di Semarang dan dua di Pati. Lima program tersebut yakni Teknik Bangunan, Teknik Elektronika, Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Mesin dan Teknik Otomotif sedangkan dua yang di Pati yakni Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian dan Teknik Otomotif.

Salah seorang siswi kelas XI, Anggun, mengatakan sangat senang dan bangga bisa masuk di SMK Negeri Jateng. Terkait dengan kehidupan asrama yang disipln, ia mengaku cukup kaget di awal. Namun saat ini, ia justru berterimakasih dengan sistem yang diterapkan. "Sekarang sudah menjadi kebiasaan, dan saya juga pastinya jadi lebih mandiri dan disiplin," ujar warga Puspanjolo Semarang tersebut.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan berdirinya SMK ini merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan ruang pada setiap anak yang ingin menggapai cita-citanya dengan pendidikan. Terutama bagi mereka yang keadaannya kurang beruntung.

"Yang berbohong pura-pura miskin dan tidak jujur maka akan di coret dan digantikan dengan orang yang benar-benar jujur, berkompeten dan berprestasi," tandas Ganjar.
(ega/nwy)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed