DetikNews
Minggu 05 November 2017, 12:50 WIB

Ditanya Godaan Uang di Ujian Bacaleg PSI, Giring: Astaghfirullah

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Ditanya Godaan Uang di Ujian Bacaleg PSI, Giring: Astaghfirullah Foto: Giring Nidji di ujian bacaleg PSI. (Kanavino-detikcom)
Jakarta - Guru besar psikologi Universitas Indonesi (UI) Hamdi Muluk bertanya soal politik uang ke Giring Ganesha saat uji bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hamdi bertanya bagaimana Giring bisa bertahan dari godaan tersebut.

"Misalnya Giring, yang datang itu bawa berkarung karung itu gimana, ini duit?" tanya Hamdi di kantor PSI, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (5/11/2017).

Giring menegaskan akan menolak uang yang disodorkan kepada dirinya. Kalau ada orang yang meminta bantuan, Giring menyebut orang itu tak perlu memberikan uang.

"Saya bilang ya udah lah, kamu mau bantuin apa sih, ya sudah saya bantuin, nggak usah kasih duit. Kalau visinya sama kenapa ngasih duit," jawabnya.

Hamdi bertanya lebih mengerucut. Dia mencontohkan bagaimana jika partai membutuhkan uang dan memerintahkan untuk menerima sogokan tersebut.

Juri lainnya, Mari Elka Pangestu menambahkan pertanyaan soal tekanan saat menjadi politikus. "Atau yang lain terima anda di pressure, partai lain yang terima," tambahnya.

Hamdi memberikan contoh konkret lagi soal e-KTP. Dia bertanya soal respons Giring terkait adanya anggota DPR yang lain menerima uang sedangkan dirinya tidak.

"Anda di komisi, e-KTP misalnya. Yang konkret, yang lain terima," kata Hamdi.

"Ya sudah nggak usah terima," timpal Giring.

"Anda dimusuhin?" tanya balik Hamdi.

"Ya sudah dimusuhin juga nggak apa-apa," kata Giring.

"Atau nanti anda dikirim air keras misalnya?" ujar Hamdi.

"Astaghfirullah," jawab Giring.

"Jangan anda understimate politik, politik itu keras lho," cetus Hamdi.

Mendengar pernyataan tersebut, Giring menyebut tak pernah berada di posisi saat dirinya disogok dengan uang sekarung. Dia mengaku hidupnya telah serba kecukupan sehingga akan menolak uang yang diberikan kepadanya.

"Saya kalau boleh jujur, saya nggak pernah di posisi tiba-tiba ada karung uang, cuma so far saya sudah, hidup saya sudah cukup, punya rumah, punya mobil, saya juga bisa ke luar negeri beberapa bulan sekali yang bisa nyenangin keluarga saya," terangnya.

Selain itu, Giring dan partainya juga telah berkomitmen untuk tak melakukan korupsi. Giring mengaku siap dengan segela konsekuensi apapun meski dirinya harus disisihkan.

"Ketika saya dikasih uang saya bilang tidak, ini komitmen kita semua di PSI. Biarin saja kita semua diallianated biar semua kita dibuat alien daripada kita harus kena KPK. Malu," urainya.

Ingin Ubah UN Jadi Ujian Bakat

Selain tanya jawab itu, Giring juga menyampaikan soal gagasannya yang ingin merubah ujian nasional (UN) menjadi ujian bakat. Apa alasannya?

"Aku propose bagaimana kalau ujian nasional itu dihapuskan. Tetapi ganti kita ujian bakat," kata Giring.

Ide itu muncul sebab Giring menganggap ada benih-benih kecurangan saat pelaksanaan ujian nasional. Hal itu juga yang bisa jadi menjadi pintu bagi maraknya korupsi di Indonesia.

"Akhirnya setelah belajar 12 tahun tentang kejujuran, hancur ya sudah deh karena kunci jawaban. Dan ini bibit-bibit korupsi. Karena curang," ujarnya.

Giring juga melihat sebagian masyarakat menjadi stres dengan adanya UN. Beberapa pihak pun dengan sengaja memberikan kunci jawaban agar murid-muridnya lulus.
(idh/bpn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed