DetikNews
Minggu 05 November 2017, 09:48 WIB

Tangis Kakek-Nenek yang Tinggal di Gubuk saat Dikunjungi Kapolres

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Tangis Kakek-Nenek yang Tinggal di Gubuk saat Dikunjungi Kapolres Rumah kakek-nenek Siare-Rani (chaidir/detikcom)
Pekanbaru - Kakek Siare (76) dan nenek Rani (65) hidup dalam serba kesusahan. Rumahnya selama ini berdinding terpal plastik bekas di bawah pohon bambu. Keduanya tak kuasa menahan haru saat dikunjungi Kapolresta Pekanbaru.

Pasangan kakek nenek ini berada di Jl Kaswari Kel Sidomulyo Timur Kecamatan Marpoyan, Damai, Pekanbaru. Untuk menuju ke rumahnya ini harus melawati jalan tanah dan rerumputan dari belakang rumah warga. Jika hari baru hujan, maka jalan setapak itu akan becek.
Tangis Kakek-Nenek yang Tinggal di Gubuk saat Dikunjungi Kapolres

Di alamat itulah, Kapolresta Pekanbaru, Kombes Susanto bersama jajarannya berkunjung ke rumah tersebut pada Jumat (3/11/2017). Hadir juga Camat Marpoyan Damai, serta warga sekitar.

Tubuh renta pasangan suami istri ini, tak kuasa menahan emosi. Kehadiran tamu yang tak dia sangka itu, membuatnya tak kuasa menahan tangis. Sang kakek nenek ini mendekap erat pucuk pimpinan polisi di jajaran Pekanbaru itu. Isak tangis keduanya membuat suasana semakin haru. Mata Kombes Susanto juga berkaca-kaca.

"Terima kasih pak, sudah mau singgah di rumah kami," tutur kakek Siare dengan suara tertahan tangis.

Kehadiran Susanto di rumah itu dalam rangka memberikan bantuan seadanya. Dia memberikan tempat tidur dan sembako.

"Saya juga meminta bantuan kepada camat agar keduanya dibantu untuk mendapatkan KTP,. Dengan demikian bisa dibuatkan Jamkesdanya. Alhamdulilah, kehadiran kami bersama pihak kecamatan setempat, akan membantu proses administrasi kependudukannya," kata Susanto.

Untuk sekedar diketahui, hidup pasutri ini memang serba kekurangan. Saat dikunjungi detikcom pada 27 April 2017 lalu, rumah kakek Siare ini masih berdinding papan lapuk, sebagian lagi berdinding terpal plastik bekas baliho.


Begitu juga atap rumahnya bekas baliho. Jika turun hujan, rumah berkuran 3x4 m itu akan menetes air. Hanya kamar tidurnya berukuran mungil yang beratapkan seng. Rumah itu tanpa ada kamar mandi atau wc. Posisi rumah reot itu persis di bawah rimbunya pohon bambu. Mereka pun sebenarnya menempati di lahan milik orang yang belum dibangun.
Tangis Kakek-Nenek yang Tinggal di Gubuk saat Dikunjungi Kapolres

Pun begitu, ada satu hal yang harus dicontoh dari keduanya. Sekalipun hidup di bawah garis kemiskinan, tanpa ada sanak keluarga, pantang bagi keduanya hidup meminta-minta atau mengemis di persimpangan. Di penghujung hayat, sang kakek tetap kerja keras mencari buah pinang untuk di jual sebagai modal makan.

Namun sepekan terakhir ini, rumah itu sudah disulap lebih apik lagi oleh Bhabinkamtibmas Sidomulyo Timur, Bripka Ilham Nur. Bersama perangkat RT setempat, mereka 'membedah' rumah itu untuk sedikit lebih layak lagi.

Rumah kakek nenek yang sudah lampuk itu, direnovasi Bhabin. Pelaksanaan renovasi tenaganya dibantu warga setempat. Dengan sudah direnovasi, rumah yang dulu kondisinya masih jauh labih baik dari kandang ayam itu, kini sudah nampak lebih baik.

Dinding rumah kini terbuat dari papan yang baru, atap rumahnya pun, kini tak bocor lagi karena sudah menggunakan seng.

"Kami gotong royong bersama sejumlah warga untuk membantu merenovasi rumah itu. Saat ini kami juga lagi membangunan kamar mandi dan WC," kata Ilham Nur.
(cha/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed