6 Ton Apem Diperebutkan Warga di Tradisi Yaqowiyu

6 Ton Apem Diperebutkan Warga di Tradisi Yaqowiyu

Mustiana Lestari - detikNews
Sabtu, 04 Nov 2017 21:34 WIB
Ganjar Pranowo di Pekalongan, Kamis (26/10/2017)/Foto: Robby Bernardi
Klaten - Tradisi Yaqowiyu di Jatinom, Klaten, menyedot perhatian masyarakat. Mereka berlomba-lomba memperebutkan enam ton kue apem di Lapangan Oro Oro Tarwiyah kompleks makam Ki Ageng Gribig Jatinom itu.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan tradisi ini merupakan acara dalam rangka mengenang tokoh penyebar agama Islam, yakni Ki Ageng Gribig. Menurut Ganjar, Ki Ageng Gribig membuktikan para ulama zaman dahulu datang membawa kebaikan melalui pendekatan budaya.

Alhasil, tradisi sebaran apem yang digelar tiap tahun di bulan Sapar dalam penanggalan Jawa atau Saparan ini, lestari hingga sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Budaya ini sangat luhur. Bisa mengumpulkan semua orang hadir di sini dengan keceriaan dan kegembiraan. Para romo kiai datang melakukan pendekatan budaya untuk kebaikan. Jangan lupa saling tolong menolong, beribadah dan menjaga NKRI," ujar Ganjar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/11/2017).

Sebelum memperebutkan apem, dua gunungan apem ini diarak dari Masjid Agung Jatinom menuju panggung Oro Oro Tarwiyah. Saat apem berada panggung utama, gunungan apem didoakan oleh ulama setempat yang berperan sebagai paraga Ki Ageng Gribig pada acara yang digelar Jumat (3/11/2017).

Usai didoakan, Ganjar berkesempatan membagikan apem pertama untuk diperebutkan warga. Setelah apem pertama dibagikan, para santri pun menjatuhkan ribuan apem tersebut pada acara yang juga disaksikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Plt Bupati Klaten Sri Mulyani.

Warga pun berdesakan berebut apem yang berjatuhan itu tak peduli panasnya terik mentari. Melihat hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta masyarakat yang datang untuk berhati- hati agar tidak mengakibatkan korban jiwa.

"Yang ingin apem ngacung? Rebutane sing ati- ati. Ini artinya betapa senengnya masyarakat hari ini. Apem berasal dari bahasa Arab 'affan' yang artinya maaf. Datang sepakat saling memaafkan, sepakat saling bertemu gotong royong, sepakat berbagi rejeki, sepakat gotong royong bangun berbarengan," kata Ganjar.

Bermacam cara dilakukan untuk mendapatkan apem lebih banyak, seperti menggunakan payung atau jaring. Tingginya antusias ini karena masyarakat percaya, apem-apem itu mendatangkan berkah dan kesejahteraan.

"Lebih dari 15 ribu yang datang kali ini, luar biasa, mungkin karena mereka tahu Pak Gubernur memastikan rawuh (hadir)," kata Ketua Pelaksana Yaqowiyu, Ebta Nurcahya. (ega/ega)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads