Haru! Berpisah 55 Tahun, Nenek Marsiyatim Akhirnya Bertemu Keluarga

Jabbar Ramdhani - detikNews
Jumat, 03 Nov 2017 18:22 WIB
Nenek Marsiyatim akhirnya bertemu anaknya setelah 55 tahun berpisah (Foto: Dok. Dinas Sosial DKI Jakarta)
Nenek Marsiyatim akhirnya bertemu anaknya setelah 55 tahun berpisah (Foto: Dok. Dinas Sosial DKI Jakarta)
Jakarta - Marsiyatim (80) sudah berpisah dengan keluarganya selama 55 tahun. Selama dua tahun terakhir, Marsiyatim menjalani hari di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Margaguna, Jakarta Selatan.

Nenek asal Surabaya ini mengaku memiliki suami dan empat orang anak. Namun, sang suami meninggalkannya bersama keempat anaknya.

Marsiyatim, dalam kondisi single parent pun mulai kerja membanting tulang untuk menghidupi anak-anak yang masih belia.

"Waktu itu tahun 1963. Saya ditinggalin suami. Anak-anak sama saya," ujar Marsiyatim lewat keterangan tertulis yang diterima dari Dinas Sosial DKI Jakarta, Jumat (3/11/2017).

Sebelum ke Jakarta, Marsiyatim tinggal bersama anak-anaknya di sebuah rumah kontrakan di Ambengan Batu, Gg. 1 Nomor 33, Surabaya, Jawa Timur. Karena kebutuhan ekonomi, dia memutuskan meninggalkan anak-anaknya untuk mencari kerja.

Marsiyatim pergi bersama keenam temannya untuk menjadi asisten rumah tangga di Ambengan, Surabaya. Kepergian ini hanya diketahui oleh pamannya.

Nenek Marsiyatim asal Surabaya, JatimNenek Marsiyatim asal Surabaya, Jatim (Foto: Dok. Dinas Sosial DKI Jakarta)

Dua tahun bekerja, Marsiyatim pulang untuk menemui anak-anaknya karena rindu. Namun sayang, dia tak menemui anak-anaknya karena sudah pindah dari rumah kontrakan yang dulu ditinggalinya.

"Saya tanya sama tetangga, anak saya ke mana? Nggak ada yang tahu. Paman juga saya tanya nggak tahu anak saya di mana," kenang Marsiyatim.

Karena tak kunjung bertemu anaknya, Marsiyatim tinggal sementara dengan pamannya. Setelah itu, dia kembali mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga.

Tapi Marsiyatim malah bekerja sebagai tenaga kuli di sebuah proyek pembangunan. Dia kerja memindahkan besi dari satu tempat ke tempat lain. Marsiyatim mengalami kecelakaan kerja.

"Saya lagi pindahin besi, tiba-tiba ada besi jatuh dari atas. Kaki kiri saya kena. Terus saya dibawa ke rumah sakit," ujarnya.

Setelah dirawat di rumah sakit (RS), Marsiyatim tidak diantar pulang. Ia malah dibawa ke salah satu yayasan di daerah Surabaya. Kemudian dia berpindah dari satu yayasan ke yayasan lain yang berada di Jakarta di daerah Petojo, Gambir, Jakarta Pusat.

Dia mengaku tak ingat dengan nama yayasan tersebut. Dia hanya ingat, di dalam yayasan selain terdiri dari lanjut usia, ada anak-anak remaja yang juga dirawat.

Marsiyatim ingin kembali kerja. Dia meminta pihak yayasan untuk tinggal dengan temannya di daerah Manggarai, Bukit Duri, Jaksel. Dia kembali bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Rutinitasnya mencuci dan menyetrika di empat rumah dalam sehari secara bergantian. Dengan upah sebesar Rp. 35.000 per bulan untuk setiap rumahnya.

Sementara itu, Kepala Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Marjito mengatakan tetangga dan tokoh masyarakat tal tega melihat kondisinya yang sudah renta.

"Mereka berinisiatif untuk membantu terkait administrasi agar dapat dirawat di Panti Sosial," kata Marjito.

Marsiyatim menuruti saran dari tokoh masyarakat untuk tinggal di panti demi kesembuhan kaki kirinya akibat kecelakaan kerja dan masih belum pulih. Pada 29 Oktober 2015, Marsiyatim mulai tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Margaguna. Selama di panti, Marsiyatim sangat mandiri dalam beraktivitas.

Nenek Marsiyatim sudah selama 2 tahun ke belakang dirawat di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Margaguna, JakselNenek Marsiyatim sudah selama 2 tahun ke belakang dirawat di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Margaguna, Jaksel (Foto: Dok. Dinas Sosial DKI Jakarta)

Marsiyatim kembali tertimpa musibah. Dia terjatuh dan kaki kirinya masuk ke dalam selokan. Kondisi ini membuatnya tak dapat beraktivitas seperti biasa.

"Saat itu kami rujuk ke Rumah Sakit Tarakan. Ia dirawat beberapa hari di sana," kata Marjito.

Saat di RS, Marsiyatim kerap berbincang dengan pasien lain di ruangan yang ditempati. Mendengar kisah perjalanannya, salah satu pasien ternyata secara kebetulan memiliki saudara di Surabaya.

Pasien tersebut lalu menghubungi saudaranya yang tinggal di Surabaya untuk membantu mencarikan keberadaan anak Marsiyatim. Pasien itu pun berhasil menemukan alamat anak-anak Marsiyatim di Surabaya. Ia juga memberikan informasi ke mereka tentang keberadaan Marsiyatim yang sehari-hari tinggal di Panti Sosial.

"Pada hari Kamis 2 November kemarin, anak Marsiyatim yang bernama Sukarman datang bersama dengan Pak RW juga ditemani anggota organisasi MUI datang ke Jakarta untuk bertemu sekaligus membawa Marsiyatim kembali ke Surabaya," ungkap Marjito. (jbr/nvl)