Bom Tentena, Intelijen Bukan Kecolongan Tapi Gagal
Senin, 30 Mei 2005 09:07 WIB
Jakarta - Ledakan bom di Pasar Tentena, Sulawesi Tengah, kembali mencoreng kinerja aparat intelijen. Kejadian ini mencerminkan lemahnya kemampuan intelijen dalam mengelola informasi yang telah diperoleh di lapangan.Kinerja aparat intelijen ini dikritisi oleh Direktur Eksekutif Propatria (organisasi nonpemerintah bidang kemiliteran) Hari Prihartono dalam perbincangannya dengan detikcom di Jakarta, Senin (30/5/2005). Intelijen tidak berhasil menganalisis pergerakan yang terjadi. "Boleh dikatakan kerja intelijen kita gagal. Tapi ini pasti akan dibantah," tegas Hari.Kegagalan lainnya, menurut Hari, pihak intelijen tidak dapat memberikan informasi yang valid kepada pemerintah pusat. Alhasil, pemerintah keliru dalam memutuskan langkah pengamanan. "Mungkin intelijen kita buruk, sehingga informasi yang didapat tidak terkelola dengan baik," sesal Hari. Apakah intelijen kita 'kecolongan'? Menurut Hari, tidak. Justru indikator penting dari sebuah pengamanan yakni jika sesuatu itu tidak terjadi. Tapi yang terjadi di Indonesia, peristiwanya bukan hanya telah terjadi, melainkan sudah berulang-ulang. Pemecahannya, bukan hanya dengan mengganti pimpinan keamanan setempat. Hal terpenting, menurutnya, seberapa jauh tingkat keseriusan pemerintah dalam mengusut tuntas kasus ini. "Mengganti seorang pimpinan keamanan apakah akan menyelesaikan masalah?," tanya Hari. Penyelidikan menyeluruh, jauh lebih penting dibandingkan dengan pemberian sanksi pencopotan jabatan.
(ism/)











































