Ganjar: Nulis LHKPN Mudah, yang Sulit Sumbernya dari Mana

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Selasa, 31 Okt 2017 12:22 WIB
Ganjar Pranowo (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) menjadi kewajiban bagi para pejabat negara termasuk para kepala daerah seluruh Indonesia. Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menyebut pengisian LHKPN mudah, tapi yang sulit soal sumbernya.

"LHKPN bahwa harta kekayaan itu pekerjaan yang paling mudah kita lakukan tapi paling sulit kita tuliskan. Jadi menuliskan harta kita itu sulit, tapi sebenarnya kita mudah, orang kita udah tahu kok, ini rumah kita, ini sepeda kita, ini mobil kita. Tapi sulit. Kesulitan yang luar biasa itu pada kolomnya sumbernya dari mana. Nah ini yang paling sulit," kata Ganjar di gedung lama KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (31/10/2017).

Ganjar menyampaikan hal tersebut saat menghadiri workshop pembangunan budaya integritas bagi kepala daerah beserta wakilnya, legislatif dan eksekutif se-Jawa Tengah. Dalam workshop itu, setiap kepala daerah juga akan diajari oleh KPK terkait penulisan LHKPN.

Ganjar juga mengungkapkan ujian terberat menjadi seorang pemimpin adalah soal integritas. Menurutnya, setiap pejabat harus tahan godaan dari segala bentuk korupsi dan gratifikasi.

"Ujian terberatnya adalah kadar integritas itu mulai dari sikap pribadi kita, dari konsistensi kita. Kita akan digoda oleh anak istri kita, keluarga kita, untuk terima uang dan macam-macam, sabar kuat atau tidak. Kalau tidak, kita akan tergoda di sana," ungkapnya.

Ganjar menerangkan apabila seorang pejabat telah mampu melewati berbagai godaan maka dia akan dihadapkan dengan risiko yang tidak mudah. Risikonya antara hidup tidak punya banyak duit atau menjadi kaya tapi hidup tak tenang.

"Kalau kita tahan godaan tersebut, bisa kita lalui maka terakhir ada tingkat risiko. Tingkat risiko ini paling berat, risikonya apa? Nggak punya duit banyak maka miskin, punya duit banyak tapi galau. Galau kenapa? Galau pada sumber yang dia dapat. Ini sebenarnya praktek yang tidak mudah," terangnya.

Ganjar lantas bicara soal kepala daerah di Jawa Tengah yang ditangkap oleh KPK. Bagi Ganjar, peristiwa tersebut menjadi momentum untuk evaluasi bersama terkait komitmen pencegahan korupsi.

"Cukup jadikan evaluasi mungkin kita bisa membangun bersama-sama komitmen pencegahan yang kita lakukan, atau barangkali setelah acara kita kita bsia barang-barang, kalau setelah ini ada kejadian seperti di Klaten tadi disebutkan atau di kota Tegal, gimana kalau setelah ini, kita nggak ada pelatihan lagi seperti ini. Kira-kira setuju atau nggak? Kalau setuju ya kita atur untuk menghukum diri kita," tuturnya. (knv/dhn)