Bom di Poso Untuk Mengalihkan Kasus Dugaan Korupsi

Bom di Poso Untuk Mengalihkan Kasus Dugaan Korupsi

- detikNews
Sabtu, 28 Mei 2005 23:35 WIB
Pekan Baru - Ledakan bom yang terjadi di Pasar Tentana, Poso sengaja dipecahkan untuk memancing kerusuhan SARA. Munculnya kerusuhan ini digunakan untuk mengalihkan kasus dugaan korupsi dana bantuan pengungsi di Poso sekitar Rp 40 miliar. Dugaan untuk mengalihkan kasus korupsi ini disampaikan Wakil Ketua Tim Pansus Poso DPR RI Azlaini Agus kepada detikcom di Hotel Rauda, Jl Sudirman, Pekan Baru, Sabtu (28/5/2005).Kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini termasuk peledakan bom, lanjut Agus, merupakan imbas dari hasil konsultasi tim Pansus bersama Menteri Hukum dan Ham, Mendagri, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BIN, dan Kejaksaan Agung pada 19 Mei lalu. Dimana dalam rapat konsultasi itu, tim Pansus merekomendasikan agar carateker Bupati Poso Andi Azikun Suyuti untuk segera diganti karena telah habis masa jabatannya pada 21 Mei. Pansus juga meminta Mendagri mengganti Bupati Poso itu dengan pejabat dari Jakarta. Selain itu, Pansus meminta Kejagung mengusut kasus dugaan penyelewengan dana bantuan kemanusian tersebut. "Kita perkirakan total bantuan kemanusiaan di Poso yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sekitar Rp 40 miliar. Dari dana itu Bupati Poso diduga melakukan penyelewengan dana sebesar Rp 7,7 miliar. Hal itu diperkuat hasil audit BPKP Sulsel," kata Agus.Dia menjelaskan, penyelewengan yang dilakukan Bupati Poso itu sudah dimulai sejak tahun 2003 ketika Azikun menjabat sebagai Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi Sulawesi Selatan. Dugaan korupsi lainnya juga dilakukan jajaran pemerintah setempat."Mulai dari oknum kejaksaan, kepolisisan, Bupati dan jajaran pemerintahan lainnya terlibat. Karena itulah kasus dugaan korupsi itu sulit untuk dibawa ke pengadilan," ungkap politikus PAN asal Riau ini.Untuk menutupi korupsi, orang-orang yang terlibat memiliki kepentingan untuk membuat teror di Poso agar terpancing dengan isu SARA. Kalau sudah demikian, maka masalah dugaan korupsi bisa beralih isu SARA. Permainan para elite politik dan penguasa di Poso, dimata tim Pansus, sudah dimulai dirasakan sejak tim tersebut dibentuk. Tim itu dibentuk berdasarkan hasil laporan sejumlah masyarakat dan LSM di Poso yang meminta penegak hukum mengadili para koruptor yang menyelewengkan dana bantuan pengungsi. Desakan ini yang membuat sejumlah koruptor itu merasa kebakaran jenggot."Sejak itulah, mulai adanya ancaman dan teror dari kelompok tertentu kepada LSM dan masyarakat yang mendukung terbentuknya tim Pansus Poso," kata Azlaini.Sebelum terjadinya ledakan bom, teror sebenarnya sudah dimulai dengan adanya pembunuhan salah seorang kepala desa. Teror berlanjut dengan pengeboman terhadap dua gereja, yakni Gereja Emmanuel dan Alfatah. Menurut Azlaini, masyarakat luas di Poso mengetahui benar pengeboman saat ini bukan dipicu karena konflik agama."Padahal di wilayah Tentena, justru mayoritas pengungsi bergama Kristen. Itu artinya sangat tidak mungkin bila ada dari kelompok agama lain yang melakukan aksi teror tersebut. Jadi situasi ini sengaja diciptakan," ungkapnya. (atq/)


Berita Terkait