Wapres Kunjungi Tanah Kelahirannya
Sabtu, 28 Mei 2005 20:32 WIB
Makassar - Di tengah kesibukannya mengunjungi Makassar, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyempatkan menengok tanah kelahirannya di Kampung Bukaka, Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (28/5/2005). Ini adalah kunjungannya yang pertama sejak terpilih sebagai pemenang pemilihan pasangan presiden dan wakil presiden, tujuh bulan lalu.Wapres memanfaatkan kesempatan ini untuk bersilahturahmi dengan para pemangku adat, tokoh masyarakat dan pemuka agama. Kegiatan berlangsung di Sao Raja (rumah raja) yang kini menjadi rumah dinas Bupati Bone. Kepada hadirin, ia berpesan agar kian menggiatkan pendidikan bagi putra daerah. Pada gilirannya, tingginya tingkat pendidikan seseorang akan dapat mengangkat harga diri serta harkat dan martabat bangsa."Harga diri bukan ditentukan oleh simbol pangkat atau adat. Melainkan kemauan kita untuk terus belajar dan bersatu," ujar Wapres yang didampingi istrinya, Ny. Mufidah Kalla. Wapres tiba di lokasi pukul 08.00 WITA. Mereka disambut oleh tarian Allusu yang diiringi oleh tabuhan balle sumanga nan rancak.Sambil dipayungi rillellu todung dewata rilangi (payung besar berbentuk segi empat), keduanya menapaki kapet merah yang dilapis kain putih menuju Sao Raja untuk mendapatkan songko'to bone (peci tanda kebangsawanan).Ditengah perjalanan, Kalla menginjakkan kakinya di gundukan tanah Bone yang dihaturkan oleh seorang Bissu (Dukun Kerajaan) berbaju merah. Pada masanya dulu, upacara adat ini digelar untuk menyambut raja-raja yang datang berkunjung. Rangkaian prosesinya bertujuan untuk mempererat ikatan persaudaraan antara tuan rumah dengan sang tamu agung.Usai acara, Kalla menuju ke kediaman orang tuanya yang berjarak sekitar 500 meter dari Sao raja. Rumah panggung sederhana bercat coklat muda yang beralamat di Jl. Campalagi itu, kini difungsikan sebagai Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) bagi warga sekitar.Setelah melepas rindu dengan para sanak kerabatnya, kepada wartawan Wapres menuturkan suka dukanya selama menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Kampung Bukaka pada pertengahan tahun 40-an. Akibat serangan penjajah, gedung sekolahnya hancur dan bagian bangunan yang utuh menjadi markas pejuang.Namun kondisi demikian tidak menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Tiga tahun lamanya, Kalla cilik dan teman-temannya mengangkut papan tulis berpindah-pindah dari satu rumah guru ke guru berikutnya."Karena gedungnya tidak bisa dipakai, kami sekolah di kolong rumah guru. Kami kadang-kadang dikencingi dari atas. Tapi akhirnya bisa jadi Wapres," tutur Kalla sambil tergelak-gelak.
(atq/)











































