Tak Ada Data, Identifikasi Korban Ledakan Pabrik Kembang Api Sulit

Parastiti Kharisma Putri - detikNews
Jumat, 27 Okt 2017 13:59 WIB
Pabrik kembang api yang meledak dan terbakar pada Kamis (26/10) kemarin (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kombes Edy Purnomo menyebut proses identifikasi korban tewas pada ledakan pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang terbilang sangat sulit. Pasalnya kondisi jenazah korban dalam kondisi hangus sehingga sulit dikenali.

"Kesulitannya sangat tinggi, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Ini nggak bisa diprediksi, harus diukur. Tangannya sudah nggak ada, kakinya sudah nggak ada, ngitungnya gimana? Susah kan," kata Edy kepada wartawan di posko postmortem RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (27/10/2017).

[Gambas:Video 20detik]


Selain lewat tes DNA, Edy berharap proses identifikasi korban dapat dilakukan dengan analisa bentuk gigi korban. Dia mengimbau keluarga korban untuk membawa rekam gigi korban saat mendatangi posko antemortem.

"Harapan kita gigi, cuma nanti akhirnya DNA. Keluarga korban bawa semua kelengkapannya seperti ijazah, KTP, Kartu Keluarga, rekam medik, rekam gigi kalau ada, foto-foto semua foto, terutama yang tampak giginya, foto korban terutama," ujar Edy.


Proses identifikasi korban bertambah sulit karena pabrik tak memiliki data-data para karyawan. Padahal, data tersebut setidaknya dapat membantu penelusuran atau identifikasi korban.

"Kemudian data karyawannya nggak ada. Kalau misalnya kayak RS Polri, hari ini shift malam siapa, dari shift malam itu kita punya datanya, umurnya berapa, ininya berapa, sudah nikah atau belum, tinggi badan, berat badan berapa, abis itu keluarganya dimana, alamatnya dimana, itu bisa kita susurin," kata Edy.


Edy menuturkan hingga saat ini sudah ada 32 pihak keluarga yang datang melapor ke posko antemortem. Ia menyebut dari 47 kantong jenazah yang diterima RS Polri baru memerika 20 kantong jenazah. Sehingga belum bisa memastikan jumlah korban tewas pada peristiwa itu.

"(Baru diperiksa) 20, itu kan belum separuh dari 47 kantong jenazah. Ini tidak bisa diprediksi, harus diukur," tuturnya. (yas/jbr)