Jamuan santap siang saat itu menjadi jurus Jokowi dalam menyelesaikan permasalahan warga yang bersitegang. Setidaknya, jamuan makan siang tersebut dapat dilihat dalam beberapa kasus seperti pada warga Waduk Pluit, warga Waduk Ria Rio, pedagang kaki lima Tanah Abang serta warga Petukangan Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada pula momen pada Juni 2013 silam, Jokowi berusaha menyelesaikan masalah soal pengerukan di Waduk Pluit. Jokowi menunjuk langsung warga yang diajak makan siang dan berdialog. Ada 18 orang yang ditunjuk dan datang ke Balai Kota beberapa hari kemudian untuk makan siang.
Salah satu ruang rapat Gubernur disulap sebagai menjadi ruang makan. Warga Waduk Pluit kemudian menyampaikan aspirasinya.
Metode yang sama juga dipakai Jokowi saat melakukan normalisasi waduk Ria Rio dan relokasi warga ke rusun. Pada September 2013, Jokowi mengajak warga untuk berbincang sambil santap makan siang di kantornya.
Setelah jadi Presiden, Jokowi tidak meninggalkan 'diplomasi makan siang'-nya itu. Ada kalanya metode itu dia pakai saat bertemu tokoh-tokoh, termasuk ketum parpol.
Cara inilah yang akan ditiru Sandiaga Uno. Saat bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan pada Rabu (25/10) kemarin, Jokowi sempat bercerita tentang metodenya itu.
"Kemarin oleh Pak Jokowi ceritakan ke kami adalah bagaimana diplomasi makan. Makan siang, makan malam," kata Sandiaga di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2017).
Hasil perbincangan dengan Jokowi itu akan diterapkan Sandiaga dalam masalah PKL lokbin Jalan Cengkeh ini. Dia akan mengundang para pedagang lebih dulu.
"Tadi saya udah ngomong sama Bu Santosa (pedagang lokbin Jalan Cengkeh) untuk bersiap-siap perwakilannya kita akan undang untuk ngobrol," ucapnya. (imk/fjp)











































