ADVERTISEMENT

Pengukuhan Guru Besar Jenderal Tito dan 'Kado' Ultah Ke-53

Mei Amelia R - detikNews
Kamis, 26 Okt 2017 10:23 WIB
Kapolri Jenderal HM Tito Karnavian (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Kapolri Jenderal HM Tito Karnavian hari ini dikukuhkan sebagai guru besar dengan gelar profesor. Dikukuhkannya Tito sebagai guru besar ini sekaligus menjadi kado ulang tahunnya.

"Betul, beliau memang hari ini bertepatan dengan ulang tahun yang ke-53," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto kepada detikcom, Kamis (26/10/2017).

Ya, tepat pada Kamis, 26 Oktober 2017, Kapolri genap berusia 52 tahun. Dengan dikukuhkannya Tito sebagai guru besar ini, titel Kapolri menjadi Profesor Drs HM Tito Karnavian, MA, PhD.

Kapolri dikukuhkan sebagai guru besar di bidang ilmu kepolisian STIK-PTIK, studi strategis kajian kontraterorisme. Pengukuhan digelar di Auditorium STIK, Jakarta Selatan. Pengukuhan dilakukan dalam sidang senat terbuka dipimpin oleh gubernur selaku Ketua STIK-PTIK Irjen Dr Remigius Sigid Tri Harjanto, SH, MSi.
Pengukuhan Guru Besar Jenderal Tito dan 'Kado' Ultah ke-52Acara pengukuhan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjadi guru besar STIK. (Audrey Santoso/detikcom)

Sementara itu, pernyataan pengukuhan disampaikan Irjen Prof Dr Iza Fadri, SH, MH, selaku perwakilan guru besar pada senat akademik, yang juga dihadiri Menteri Ristek Dikti Prof Dr Mohamad Nasir.

Keputusan Tito sebagai profesor/guru besar telah ditandatangani Menristekdikti dalam Surat Keputusan No: 98876/A2.3/KP/2017 tertanggal 19 Oktober 2017. Jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar ini telah melalui proses yang cukup kama dan prosedur yang ditentukan berdasarkan undang-undang.

"Proses administrasi untuk pengusulan jabatan akademik sebagai guru besar ini secara intensif telah dilakukan sejak awal bulan Juli 2017, setelah sebelumnya dilakukan inventarisasi karya-karya akademik dan verifikasi atas kegiatan ilmiah dan karya tulis Tito untuk dijadikan sebagai bagian dari syarat pengurusan jabatan akademik guru besar," sambung Rikwanto.

Penetapan dosen tidak tetap pada perguruan tinggi yang memiliki kompetensi luar biasa untuk diangkat dalam jabatan akademik profesor berdasarkan usulan dari perguruan tinggi dan rekomendasi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, sesuai dengan Peraturan Mendikbud Nomor 88 Tahun 2013 tentang Pengangkatan Dosen Tidak Tetap dalam Jabatan Akademik pada Perguruan Tinggi Negeri Pasal 2 ayat 1.

Dengan bertambahnya guru besar ilmu kepolisian di STIK-PTIK, diharapkan ilmu kepolisian semakin menjadi ilmu terbuka yang mampu memberikan solusi bagi kepentingan keilmuan ataupun kepentingan praktis dalam kaitan dengan tugas-tugas kepolisian, yaitu pemeliharaan kamtibmas, penegakan hukum, serta perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

"Apalagi Profesor Tito Karnavian dikukuhkan sebagai guru besar untuk studi strategis kajian kontraterorisme, sehingga diharapkan pemikiran-pemikiran beliau nanti dapat diaplikasikan bagi kepentingan bangsa negara Indonesia, khususnya dalam menghadapi ancaman terorisme," tambahnya.

Riwayat Tito Karnavian

Muhammad Tito Karnavian lahir di Palembang pada 26 Oktober 1964. Tito adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1987 dan meraih Adhi Makayasa, yakni penghargaan sebagai lulusan terbaik di angkatannya.

Setelah lulus pendidikan Akpol, Tito mendapat penugasan pertama di Polda Metro Jaya sebagai perwira reserse. Pada 1992, ia mendapat beasiswa dari The British Council untuk program Master in Police Studies. Sistem pendidikan di Inggris yang tidak mengenal S1 seperti di Indonesia memungkinkannya mengikuti program S2 di University of Exeter, Inggris, dan lulus dengan gelar MA pada 1993.

Pada 1994-1996, Tito mengikuti pendidikan kedinasan PTIK dan lulus sebagai peserta terbaik. Pada 1998, tawaran dari pemerintah Selandia Baru kepada Polri untuk program Sesko ia peroleh dan lulus sekaligus menyandang BA dalam bidang strategic studies, karena kerja sama Sesko Selandia Baru dengan Massey University, salah satu universitas ternama di negara itu.
Pengukuhan Guru Besar Jenderal Tito dan 'Kado' Ultah ke-52Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Lamhot Aritonang/detikcom)

Tito mengikuti program penyamaan sesko luar negeri di Sespimpol Lembang, Bandung, pada 2010. Setelah itu, Tito sering bertugas di jajaran reserse Polda Metro Jaya dan Sulawesi Selatan serta kapolres di Serang, Banten.

Tito sukses memimpin operasi kontraterorisme di Poso, Sulawesi Tengah, pada 2005-2007. Puluhan tersangka teroris jaringan radikal berhasil ditangkap.

Keahliannya dalam bidang kontraterorisme memang tidak diragukan lagi. Pengalamannya dalam memimpin operasi terorisme ia tuangkan dalam sebuah buku bertajuk 'Indonesian Top Secret' terbitan Gramedia.
Pengukuhan Guru Besar Jenderal Tito dan 'Kado' Ultah ke-52Kapolri Jenderal Tito Karnavian beserta istri, Tri Suswati Karnavian, saat menunaikan ibadah haji. (dok. Polri)

Dalam bidang keilmuan, Tito juga mendapatkan beasiswa pada program PhD bidang strategic studies, yang merupakan anak cabang disiplin ilmu politik internasional di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Nanyang Technological University (NTU) Singapore pada 2008. NTU merupakan salah satu universitas bergengsi yang masuk kategori 100 universitas terbaik dunia dan 20 besar universitas terbaik di Asia. Sedangkan RSIS sendiri masuk kategori 50 think-tank terbaik di dunia dan nomor 3 di Asia.
Pengukuhan Guru Besar Jenderal Tito dan 'Kado' Ultah ke-52Kapolri Jenderal Tito Karnavian menghadiri rapat kerja dengan Komisi III DPR RI (Lamhot Aritonang/detikcom)

Ketertarikannya dalam dunia terorisme dan insurgensi dibuktikan Tito dalam sebuah disertasi tentang insurgensi Islamis yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur strategic studies, dengan studi kasus gerakan Al-Jamaah al-Islamiyyah.

Pada April 2013, ia berhasil mempertahankan disertasinya dan memperoleh gelar PhD dengan penghargaan 2nd Class Upper (setingkat Magna Cum Laude dengan GPA 4,25) pada 8 Mei 2013. Pada 2011, Tito juga menyelesaikan pendidikan Lemhannas dengan predikat penerima Bintang Seroja lulusan terbaik.

Tito juga menjabat Kadensus 88 Antiterorisme, Deputi Penindakan pada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Kapolda Papua, Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran, serta Kapolda Metro Jaya. Pada 13 Juli 2016, ia dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. (mei/nvl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT