DetikNews
Rabu 25 Oktober 2017, 10:44 WIB

Mantan Petani Ganja: Penanam Ganja Tidak akan Pernah Kaya

Agus Setyadi - detikNews
Mantan Petani Ganja: Penanam Ganja Tidak akan Pernah Kaya Ladang ganja di Aceh (agus/detikcom)
Aceh - Siang itu, Fakri (48) berbincang santai dengan Serda Sigit Mahyudi. Keduanya akrab. Sesekali, tangan mereka menunjuk ke hamparan perkebunan nan gersang. Obrolan ringan di bawah terik mentari hari itu sesekali diselingi canda tawa.

"Di sini dulu ladang ganja. Sampai ke atas sana itu ganja semua," kata Fakri (48), mantan petani ganja asal Desa Lambada, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar, Aceh saat ditemui beberapa waktu lalu.

Fakri menjadi petani ganja sejak tahun 2000 dan baru bertaubat pada 2015 silam. Selama 15 tahun menanam tanaman haram tersebut, Fakri tidak pernah mendapat hasil memuaskan. Malah ia sering ditipu para agen atau bandar. Padahal resiko yang harus diterimanya tergolong besar. Ia harus berhadapan dengan hukum jika tertangkap.

"Tidak pernah mendapat hasil sekali pun. Waktu panen sudah tidak ada yang beli," ungkap Fakri.

Menjadi penanam ganja juga tidak membuat mereka kaya raya. Malah sering harus kucing-kucingan dengan aparat kepolisian atau pun TNI. Kadang saat masa panen tiba, mereka harus menelan pil pahit karena kebun milik mereka sudah duluan diobrak-abrik aparat penegak hukum.

"Penanam ganja itu tidak akan pernah kaya," jelas Fakri.

Usai insaf, Fakri bergabung dalam kelompok tani Oiska Lamteuba. Ia didapuk sebagai bendahara, sementara ketua dijabat Fauzan (27). Kelompok tani tersebut memang sudah duluan terbentuk yaitu pada tahun 2012. Fauzan yang menjadi pendiri juga bekas petani ganja. Sejak duduk di bangku sekolah, ia sudah menerima ajakan untuk menanam ganja.

Cerita bermula pada pertengahan 2000 silam. Kala itu, Fauzan bersama beberapa orang lainnya diperintahkan untuk menanam ganja di lahan seluas 1,5 hektare. Ia berangkat ke lokasi yang terletak tak jauh dari tempatnya tinggal. Tugas mereka di sana menyemai bibit, menanam dan merawat. Sementara ladang sudah duluan disiapkan orang lain.

Tiga bulan berselang, masa panen tiba. Tapi dia bersama beberapa orang lain tidak dapat menikmati hasilnya. Saat ke ladang pagi hari, Fauzan melihat tanaman ganja yang dirawatnya sudah tidak ada. Selidik punya selidik, rupanya sudah duluan dipanen oleh orang yang menyuruh mereka. Fauzan kena tipu.

Pengalaman pertama tidak membuat Fauzan kapok. Beberapa bulan kemudian, Fauzan kembali menanam ganja. Tapi lagi-lagi ia apes. Kala masa panen tiba, ladang miliknya diobrak-abrik serombongan TNI. Ketika itu, Aceh masih dalam kondisi konflik. Pasukan pemerintah yang sedang memburu pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menemukan ladang ganja di kaki pegunungan Lamteuba.

"Nggak ada untungnya menanam ganja. Tapi masyarakat di sini mau tanam ganja karena tidak ada pekerjaan lain," kata Fauzan saat ditemui dibekas ladang ganja di Desa Lambada.

Selama menjadi petani ganja, Fauzan tidak pernah berhubungan langsung dengan orang yang menyuruhnya. Mereka rata-rata hanya mendapatkan pekerjaan untuk menanam hingga memotongnya. Setelah semuanya terkumpul, pekerjaan diambil alih oleh pemiliknya.

Usai menamatkan bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 2006 silam, Fauzan benar-benar taubat. Ia kemudian memilih hijrah ke Pulau Jawa untuk mengikuti pelatihan di Oisca Training Center. Di sana, Fauzan belajar banyak hal tentang pertanian.

Sepulang mengikuti pelatihan, Fauzan memilih menjadi petani. Ia juga mengajak beberapa mantan petani ganja untuk mengikuti jejaknya. Pada 2016 silam, mereka menanam berbagai tanaman di antaranya pisang dan kedelai pada lahan seluas 15 hektare. Meski sudah beralih dari ganja, tapi tanaman produktif mereka tetap saja kerap diobrak-abrik. Kali ini bukan oleh TNI atau pun polisi, tapi hama babi menjadi lawan baru mereka.

"Kalau di Lamteuba ini, semua pernah jadi petani ganja. Mulai anak-anak sudah ada yang nanam ganja," ungkap Fauzan.

Meski sudah duluan ada kelompok tani, tapi para penanam ganja di sana mulai ramai-ramai bertaubat sejak Serda Sigit memberi petuah untuk mereka. Ajakan dengan berbagai cara dilakukan Sigit. Walau tidak mudah, tapi hasilnya kini mulai terlihat.

Perjuangan Sigit selama tiga bulan memang tidak sia-sia. Berkat tangan dinginnya, lahan seluas 98 hektare milik 98 petani di Desa Lambada berhasil "disulap" menjadi sawah dan perkebunan. Sebelum proses cetak ladang baru dikerjakan, Sigit mengimbau masyarakat di sana untuk membersihkan lahan mereka dari tanaman ganja.

Setelah lahan di sana tidak lagi menjadi ladang ganja, para petani berharap pemerintah membangun embung-embung atau pun irigasi untuk mengaliri air ke sawah mereka. Pasalnya, saat musim kemarau panjang, lahan di sana menjadi kering kerontang. Warga tidak berani menanam tanaman karena dikhawatirkan bakalan gagal panen.

"Airnya di sini bukan mencari tapi memang sudah ada tapi jalan tempuhnya bagaimana menggunakan air yang sudah ada untuk mengaliri ke sawah yang sudah dibuat. Harus dibuat bendungan irigasi," kata Fakri, mantan petani ganja.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed