TPF Pesimistis Hasil Kerjanya Bisa Buka Tabir Pembunuh Munir
Jumat, 27 Mei 2005 17:23 WIB
Jakarta - Rasa kecewa Tim Pencari Fakta (TPF) Munir terhadap BIN dan kepolisian sudah tak tertahankan lagi. Sampai-sampai TPF pesimistis kerja kerasnya bisa membantu mengungkap tabir pembunuh aktivis HAM itu.Dalam situasi kerja TPF yang tinggal tiga minggu lagi, TPF belum juga berhasil mengatasi hambatan-hambatan yang ada."Saya ingin dalam tiga minggu ini ada political will yang lebih kuat dari BIN dan kepolisian untuk menemukan bukti-bukti yang lebih kuat atas keterlibatan BIN dalam kasus ini," tegas salah satu anggota TPF, Rachland Nashidik, dalam jumpa pers di kantor Imparsial, Jl. Diponegoro, Jakarta, Jumat (27/5/2005).Hambatan-hambatan ini, diakui Rachland, telah membuat tim yang bertanggung jawab kepada Presiden SBY itu tidak bisa bekerja secara maksimal."Padahal kegagalan TPF akan menjadi tamparan keras bagi wibawa presiden karena mandat TPF berasal dari presiden. Tanpa ada wibawa presiden yang efektif, BIN dan Polri belum akan mau bekerja sama dengan TPF secara terbuka," kata Rachland mengingatkan.Temuan TPF, seperti adanya percakapan sebanyak enam kali antara tersangka pembunuh Munir, Pollycarpus dengan pejabat BIN, tutur Rachland, dipastikan tidak akan membawa satu dampak yang signifikan bagi pengungkapkan kasus Munir jika situasi terus seperti ini.Padahal seharusnya, lanjut dia, temuan bukti percakapan itu bisa menjadi pemicu bagi BIN untuk terlibat lebih aktif dalam pengungkapkan kasus ini. "Tapi saya tidak melihat sampai hari ini adanya keingintahuan dari pimpinan BIN untuk mengungkap kasus ini," katanya.Rachland juga menceritakan bagaimana TFP terus menerus ditolak saat ingin memeriksa dokumen BIN. Saat TPF datang ke kantor BIN untuk memeriksa dokumen, pejabat BIN terang-terangan menolak keinginan TPF. Alasannya, pejabat tersebut menerima instruksi dari Kepala BIN untuk tidak memperlihatkan dokumen-dokumen kepada TPF.Kecewa pada PolisiKekecewaan TPF pada kepolisian, menurut Rachland, juga sangat besar, terutama saat polisi telah menyita satu block note dari meja Pollycarpus yang berisi sketsa kelas bisnis dalam pesawat Garuda. Dari sketsa tersebut terlihat salah satu kursi telah dilingkari.Di block note tersebut juga ditemukan daftar nomor telepon dan catatan lain, seperti cara merespons reaksi masyarakat dan time line dari Jakarta ke Amsterdam.Dijelaskan Direktur Imparsial itu, dalam garis yang menunjukkan Singapura ke Amsterdam ada garis baru yang dibuat untuk menandakan satu jam. "Perlu diingat meninggalnya Munir dari penerbangan Singapura ke Amsterdam. Block note ini sangat mencurigakan, tapi sampai hari ini belum disampaikan ke TPF," katanya. Rachland juga menyayangkan pemberitaan di media massa yang selalu mengaitkan keterlibatan beberapa nama dalam kasus Munir dan terkait dengan institusi tertentu. "Padahal sampai hari ini TPF tidak menemukan fakta apa pun bahwa Kopassus secara institusional terlibat," katanya.Sekadar diketahui, masa kerja TPF Munir yang terdiri dari 14 anggota ini akan berakhir pada 23 Juni 2005 nanti. TPF dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) pada Desember 2004. Sebetulnya, masa kerja tim ini hanya tiga bulan, namun pada Maret 2005 diperpanjang tiga bulan lagi.
(umi/)











































