DetikNews
Rabu 25 Oktober 2017, 01:52 WIB

Tolak Eksepsi Aa Gatot, Jaksa Tegaskan Penetapan Tersangka Sah

Aditya Mardiastuti - detikNews
Tolak Eksepsi Aa Gatot, Jaksa Tegaskan Penetapan Tersangka Sah Suasana sidang tanggapan eksepsi Gatot di PN Jaksel (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Gatot Brajamusti alias Aa Gatot menjalani sidang lanjutan kasus kepemilikan satwa liar dan senjata api (senpi), serta pencabulan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan menolak eksepsi terdakwa Gatot.

"Kami selaku JPU memohon majelis hakim PN Jakarta Selatan yang mengadili, memeriksa perkara ini berkenan memberi putusan menetapkan bahwa eksepsi terdakwa Gatot Brajamusti alias Aa Gatot alias Dudung Sarkulibrata tidak dapat diterima atau ditolak," kata koordinator Tim JPU Hadiman saat membacakan tanggapan eksepsi di PN Jakarta Selatan, Selasa (24/10/2017).

Salah satu yang ditanggapi jaksa adalah soal eksepsi Aa Gatot soal penetapan tersangka yang tidak sah. Jaksa menyatakan jika pemeriksaan Gatot dimulai dari penyelidikan terkait satwa liar kemudian dari hasil pengembangan ditemukan kepemilikan senpi.

"Bahwa pemeriksaan terhadap Gatot berdasarkan laporan dari saksi Briptu Rhendy dalam kasus satwa sedangkan laporan saksi Brigadir Hermansyah dalam kasus senpi dan amunisi, dengan model laporan model A yaitu temuan langsung pada saat dilakukan penggeledahan awalnya terkait perkara kepemilikan narkotika," ujarnya.


Hadiman mengatakan penggeledahan di rumah terdakwa di Jl Niaga Hijau X, No 6 RT 007/017, Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dilakukan atas permintaan Kapolda Nusa Tenggara Barat kepada Kapolda Metro Jaya. Tujuannya untuk menelusuri keberadaan narkotika di rumah Gatot.

Namun, polisi malah menemukan barang bukti seperti satu ekor elang brontok yang masih hidup, satu ekor harimau sumatera yang telah diawetkan, dua pucuk senjata api dan ratusan amunisi.

"Selanjutnya sekitar pukul 01.00 WIB saksi Brigadir Hermasyah bersama saksi Iptu Verdika Bagus Prasetya dipimpin oleh Kompol Teuku Arsya K langsung mendatangi rumah terdakwa. Sampai di rumah terdakwa sekitar pukul 02.30 WIB langsung dilakukan penggeledahan disaksikan oleh anak kandung terdakwa bernama Siti Alvianoor, keponakan terdakwa bernama saksi Salsabila Hasibuan dan saksi Hendrik Tri Juliayanto selaku koordinator lapangan perumahan," sambungnya.

Hadiman menegaskan jika penetapan Gatot sebagai tersangka dilakukan setelah kepolisian melakukan gelar perkara. Penyidik memiliki dua alat bukti berupa saksi dan barang bukti.

"Penetapan tersangka/terdakwa oleh Penyidik Polda Metro Jaya tidak terburu-buru sesuai dengan ketentuan KUHAP dan Peraturan Kapolri No 14 tahun 2012 tentang manajemen penyidikan tindak pudana. Sehingga alasan yang dikemukakan oleh saudara penasehat hukum terdakwa dalam eksepsinya tersebut tidak cukup beralasan dan harus ditolak," tegas Hadiman.


Keterangan Gatot Soal Kepemilikan Satwa Mengada-Ada

Dalam eksepsinya, penasehat hukum Gatot menyebut jika harimau sumatera itu diberi dari Ustaz Guntur Bumi (UGB) sebagai hadiah ulang tahun terdakwa pada 2011. Padahal Guntur baru mengenal Gatot pada 2013, jaksa menyatakan keterangan Gatot tidak beralasan.

"Dikuatkan lagi dengan istri UGB yang berinisial PM pada tanggal 25 Oktober 2015, alasan-alasan yang dikemukakan tim penasehat hukum terdakwa tidak beralasan dan sangat mengada-ada, karena berdasarkan keterangan saksi UGB di dalam BAP, Bahwa saksi baru kenal terdakwa sejak 2013 sedangkan 2011 masih menetap di Semarang jadi saksi UGB belum kenal terdakwa," sambungnya.

Hadiman menambahkan tim PH dalam eksepsinya menyebutkan jika istri Guntur Bumi menjadi saksi pada 25 Oktober 2015. Padahal kasus soal kepemilikan satwa liar ini baru bergulir pada 2016, dan istri Guntur Bumi tidak pernah diperiksa penyidik.

"Alasan-alasan yang dikemukakan Tim penasehat hukum mengada-ada karena istri UGB yang berinisial PM belum pernah diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya pada 25 Oktober 2015 karena perkara terdakwa laporan Briptu Rhendy pada tanggal 29 Agustus 2016 tenggang waktu sangat jauh. Bahkan dalam BAP tidak ada nama inisial PM sebagai saksi," jelas Hadiman.

Dalam eksepsinya, Gatot menyebut jika pemilik dua senpi jenis Glock dan Walther serta ratusan amunisi merupakan seseorang berinisial AS. Jaksa menyebut berdasarkan fakta di lapngan tidak ada saksi yang mengetahui Bahwa dua senpi, dan ratusan amunisi itu milik AS.

"Bahwa tidak ada satupun saksi yang melihat dan mengetahui Bahwa dua pucuk senpi Glock dan Welther serta ratusan amunisi milik inisial AS dan hanya keterangan terdakwa sendiri," urai jaksa.

Jaksa juga menyebut jika Gatot sudah menyembunyikan senpi dan amunisi tanpa izin dari pihak berwenang. Jaksa menambahkan jika dua senpi itu sudah digunakan untuk pembuatan film terdakwa.

"Terdakwa menyimpan atau menyembunyikan senjata api dan amunisi tanpa izin dari pihak yang berwenang sejak 2005," tegas Jaksa.


Dalam kasus kepemilikan satwa liar dan senpi, Aa Gatot didakwa melanggar pasal 21 ayat 2 huruf B jo pasal 40 ayat 2 UU RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, pasal 1 UU nomor 12/Drt/1951 tentang kepemilikan beberapa senjata api beragam jenis beserta amunisi.

Kemudian Gatot juga terjerat kasus pencabulan yaitu pasal 81 ayat 2 atau pasal 81 ayat 1 UU Perlindungan Anak dan pasal 64 ayat 1 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.
(ams/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed