"Jadi cost baru Rp 15,2 triliun yang terekam. Kalau semua ditandatangani bisa naik menjadi Rp 20 triliun," kata Sumarsono di Jalan Gatot Subroto, Jaksel, Senin (23/10/2017).
Sumarsono menjelaskan ada beberapa daerah yang memang belum menandatangani NPHD dengan Bawaslu. Jika semuanya menandatangani NPHD, jumlah anggaran yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 20 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu karena satuannya adalah satuan APBD. Jadi hitungan itu sangat signifikan, sekarang sekali perjalanan aja kita hitung berapa," tuturnya.
Beban tahun ini, kata Sumarsono, memang jauh lebih banyak. Dia lantas mencontohkan bagaimana proses demokrasi di Papua menghabiskan biaya besar.
"Memang bebanan tahun ini sangat luar biasa, contoh di Papua saja, antarkabupaten besar dan dia menghasilkan Rp 2,6 triliun, KPU saja Rp 1,6 triliun. Jadi bisa bayangkan saja. Papua karena dia anyar kabupaten, kecamatan pakai pesawat," tuturnya.
Banyaknya daerah di Pulau Jawa juga menjadi alasan dana yang dikeluarkan cukup banyak. Hal itu disebabkan populasi masyarakat di Jawa cenderung padat.
"Kedua, ini Jawa populasi tinggi. Karena harga-harga itu tergantung jumlah populasi. Jadi faktor geografis dan penduduk menjadi signifikan dalam hitungan satuan pembiayaan," ujarnya. (knv/idh)










































