Jembatan itu terbuat dari bambu dengan seutas kawat besi sebagai penyangga, di sisi antarkampung, terdapat pilar-pilar yang terbuat dari kayu dengan bangunan semen di bawahnya. Para petani yang biasa menggunakan jembatan bambu untuk pergi ke sawah terpaksa menyeberangi sungai.
"Saya sih kurang tahu kapan jembatan itu rusaknya, cuma memang udah lama nggak kepake, biasanya warga kan lewat situ," kata salah seorang warga sekitar, Mustofa (27), di Serang, Senin (23/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Muhammad Iqbal/detikcom |
Akibat kerusakan jembatan, warga di dua kampung di ujung perbatasan Serang-Pandeglang itu harus memutar jauh sekitar 1,5 kilometer untuk bisa sampai di Desa Pasauran.
"Ngomongnya mau dibangun, cuma sampai sekarang nggak jadi-jadi. Sebetulnya itu ada tiang begitu yang udah dibangun tapi mandek," ucap Mustofa.
Jalan utama kampung yang kondisinya rusak dan jauhnya jarak tempuh menuju desa tetangga membuat warga bergotong-royong membangun jembatan bambu.
Meski jembatan itu tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, warga tetap memilih melewati jembatan yang kini kondisinya rusak itu karena jarak yang dekat.
Foto: Muhammad Iqbal/detikcom |
Untuk melewati jembatan bambu, warga terlebih dahulu melintasi sawah dan perkebunan agar sampai ke desa tetangga.
"Emang nggak bisa dilewatin sama motor, harus jalan kaki, tapi banyak yang lewat sini. Kalau sekarang karena rusak udah nggak bisa dilewatin. Harus turun ke sungai," ujarnya.
Mustofa menceritakan, sebelum rusaknya jembatan bambu itu, jika arus sungai deras, jembatan itu tidak bisa dilalui warga. "Sekarang aja karena airnya surut bisa nyeberang lewat kali. Kalau lagi tinggi airnya ya harus muter lewat jembatan utama," tuturnya. (try/try)












































Foto: Muhammad Iqbal/detikcom
Foto: Muhammad Iqbal/detikcom