KH Bisri Syansuri Pencinta Fikih Penyokong Program KB

Sudrajat - detikNews
Senin, 23 Okt 2017 14:56 WIB
Foto: Dok. Islam Nusantara Center
Jakarta - Pada suatu hari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ditanya oleh KH Wahab Chasbullah perihal KH Bisri Syansuri. "Saya dengar kakekmu itu tidak pernah makan di warung?" Gus Dur menjawab, "Memang benar demikian." Kiai Bisri, jelas Gus Dur, tidak menemukan hadis yang menyatakan Nabi Muhammad SAW pernah makan di warung.

Dia sengaja mengungkapkan kisah tersebut dalam bukunya, 'Kiai Bisri Syansuri Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat', untuk menggambarkan betapa sang kakek dari ibunya itu begitu gandrung dan kukuh dalam bersikap dan bertindak berlandaskan fikih.

Sebaliknya, Abdul Wahab, yang notabene sahabat karib sekaligus kakak ipar Bisri, tergolong kiai yang selalu merujuk pada rasio dan konteks dalam menyikapi suatu kondisi. Di satu sisi, Bisri benar ketika menyatakan tak ada hadisnya untuk makan di warung. Di sisi lain, faktanya, di era Rasulullah memang belum ada warung.

Hanya, Gus Dur pun dalam penjelasannya lebih lanjut mewanti-wanti bahwa Kiai Bisri tak selamanya kaku dalam memahami teks. Dalam perkembangan kehidupan selanjutnya, dia juga menyertakan konteks suatu peristiwa.

KH Bisri Syansuri Pecintah Fiqh Penyokong Program KBFoto: Zaki Alfarabi/detikcom


Ketika banyak tokoh menolak program Keluarga Berencana pada pertengahan 1970-an, misalnya, Kiai Bisri justru berpendapat sebaliknya. Dengan merujuk pendapat Imam Al-Ghazali, ia memperbolehkan KB dengan niat untuk kemaslahatan umat dalam berumah tangga.

Dalam banyak sikapnya, Kiai Bisri selalu berpegang teguh pada tekstualitas fikih dan kaidahnya. Namun, menyangkut hajat orang banyak, hajat dan maslahat masyarakat banyak, dalam hal ini terkait dengan KB, Kiai Bisri seolah-olah melompat dari kebiasaan tekstualitasnya.

"Sikap Kiai Bisri ini dapat kita maknai sebagai upaya kontekstualisasi fikih dan ajaran agama, sekaligus membuktikan sikap kenegaraannya; sikap nasionalismenya."

***

Dalam rangka Hari Santri Nasional 2017, Minggu (22/10/2017), KH Bisri Syansuri menerima penghargaan sebagai 'Pahlawan Santri'. Penganugerahan yang diprakarsai oleh Islam Nusantara Center (INC) itu diberikan oleh sesepuh NU KH As'ad said Ali kepada Hj Muhassonah Hasbullah (mewakili keluarga), yang juga ibunda Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, di gedung Galeri Nasional Indonesia.

"Beliau merupakan salah seorang tokoh ulama Indonesia yang selalu berada di garda terdepan melawan penjajahan. Kuat dalam ilmu fikih dan selalu mendahulukan kesatuan dan persatuan umat," kata Pengasuh Ponpes Darul Muttaqien, Bogor, KH Matrajo.

Muhaimin mengapresiasi penghargaan tersebut. Apa yang telah diajar dan diamalkan Kiai Bisri Syansuri, kata dia, sudah seharusnya dilanjutkan para santri. Jangan sampai nilai-nilai yang telah ditanamkan rusak oleh ajaran lain yang ingin merusak NKRI," katanya.

Selain sebagai ahli fikih dan pendiri NU, Kiai Bisri pernah berjibaku di kancah politik nasional. Selama Sidang Umum MPR 1977, Kiai Bisri tegas menolak masuknya aliran kepercayaan yang diprakarsai pemerintah. Dia pun melakukan walk out atau meninggalkan sidang ketika MPR tetap memutuskan memberikan status formal kepada aliran kepercayaan.

Sebelumnya, dia pernah menentang rancangan UU Perkawinan yang disodorkan pemerintah. Kiai Bisri lantas menggalang para ulama untuk menyusun rancangan UU Perkawinan yang lebih berlandaskan nilai-nilai Islam. Rancangan tersebut kemudian bisa diterima fraksi-fraksi di DPR dan disahkan menjadi UU pada 1974. (jat/erd)