DetikNews
Senin 23 Oktober 2017, 12:27 WIB

Tolak Hajikan Adik, Berdagang Beras Usai Berhenti Jadi Menteri

Sudrajat - detikNews
Tolak Hajikan Adik, Berdagang Beras Usai Berhenti Jadi Menteri Foto: Zaki Alfarabi/detikcom
Jakarta - Andai Suryadharma Ali meneladani betul perilaku pendahulunya, Saifuddin Zuhri, tentu dia tak akan menjalani hidup di balik penjara. Saat menjadi Menteri Agama, 1962-1967, Saifuddin dikenal bersih, jujur, dan antinepotisme.

Suatu kali adik iparnya, Mohammad Zainuddin Dahlan, menghadap Saifuddin di Departemen Agama. Dia memohon untuk dihajikan dengan biaya dinas dari pemerintah. Zainuddin tergolong pejuang kemerdekaan dan kondisi perekonomiannya layak dibantu. Tapi Saifuddin memutuskan menolak permintaan iparnya tersebut.

"Ada satu hal yang menyebabkan saya tidak mungkin membantu melalui haji departemen. Karena kamu adikku. Coba kamu orang lain, sudah lama aku hajikan," ujar KH Saifuddin Zuhri kepada iparnya, seperti ditulis Rohani Sidiq dalam buku 'Ulama Pejuang Kemerdekaan'.

Tolak Hajikan Adik, Berdagang Beras Usai Berhenti Jadi MenteriFoto: Fuad Hasyim/detikcom


Hj Farida Salahuddin Wahid membenarkan cerita itu. Sang ayah, kata dia, sangat menerapkan disiplin yang keras kepada keluarga dan kerabat dekatnya. Selama Saifuddin menjadi Menteri Agama, 1962-1967, kata dia, tidak ada satu pun anak-anak yang naik haji. "Anak-anak, apalagi ponakan, tidak boleh menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi," ujarnya.

Dalam rangka Hari Santri 2017, Saifuddin kemarin menerima penghargaan sebagai 'Santri Pengabdi Sepanjang Hayat'. Penganugerahan yang diprakarsai oleh Islam Nusantara Center (INC) itu diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang diterima oleh salah seorang putranya, Ahmad Baihaqi Saifuddin.

Menurut Baihaqi, selepas menjadi menteri, ayahnya pernah berdagang beras untuk menghidupi keluarga. Maklum, uang pensiun yang ia terima tak mungkin cukup untuk membiayai hidup 10 anaknya. "Jadi, setiap Sabtu selepas salat duha ayah biasanya pergi begitu saja dan baru kembali saat petang," ujar Baihaqi.

Anak-anaknya tak ada yang tahu apa gerangan yang dikerjakan sang ayah. Cuma, sebelum pergi, ibu mereka biasa menyiapkan bekal dalam rantang dan termos, berikut gelas dan kain serbet. Hingga suatu hari, putra sulungnya yang penasaran diam-diam mengikuti langkah sang ayah dari jauh. "Ternyata ayah berjualan beras bersama teman-temannya di sebuah kios dekat stasiun kereta di Kota," kata Baihaki. "Kakak saya baru cerita setelah ayah berpulang pada (25 Maret) 1986," imbuhnya.

Hal lain yang dikenang Baihaki dari sosok Saifuddin Zuhri adalah nilai-nilai disiplin yang ditanamkan, terutama untuk urusan salat berjemaah dan mengaji. Anak-anak diwajibkan salat magrib berjemaah di rumah, lalu mengaji bersama. Saat Ramadan, anak-anak juga diwajibkan khatam satu juz setiap hari.

"Tradisi ini kami lestarikan di lingkungan keluarga besar. Setiap bulan kami melakukan doa khataman," ujar Baihaqi.
(jat/erd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed