DetikNews
Senin 23 Oktober 2017, 10:45 WIB

Bukan Menpora, Menteri Agama Ini Pencetus Nama GBK

Sudrajat - detikNews
Bukan Menpora, Menteri Agama Ini Pencetus Nama GBK Ilustrasi: Zaki Alfarabi
Jakarta - Kontingen olahraga Indonesia yang dipimpin Sri Sultan Hamengkubuwono IX tak cuma membawa pulang lima medali perunggu dari Asian Games di Tokyo, Jepang, Juni 1958. Ada kabar lain yang jauh lebih mengejutkan dan membanggakan, yakni dipilihnya Jakarta sebagai kota penyelenggara berikutnya, yakni tahun 1962. Jakarta mengalahkan dua kandidat kuat lainnya, Karachi (Pakistan) dan Taipe (Taiwan).

Guna memenuhi kepercayaan itu, setahun kemudian Presiden Sukarno menginstruksikan pembangunan berbagai fasilitas olahraga. Semula daerah yang dipilih adalah kawasan Bendungan Hilir. Tapi karena relatif padat penduduk, Gubernur Sumarno menolaknya. Sebagai alternatif, Rawamangun disodorkan. Tapi Bung Karno berkeras ingin di dekat pusat kota. Kawasan Setia Budi (Dukuh Atas) menjadi pilihan. Tapi setelah meninjau lokasi dari udara, arsitek kesayangannya F. Silaban keberatan dengan usul sang Presiden. Kawasan tersebut, kata Silaban, rawan banjir dan akan menjadi sumber kemacetan luar biasa.

Kepada si Bung, dia mengusulkan agar pembangunan stadion dan venue lainnya dipusatkan di kawasan Senayan. Bung Karno setuju, dan pembangunan dimulai pada 8 Februari 1960. Sekitar 60 ribu penduduk Senayan dipindahkan ke perumahan baru di Tebet, Slipi, dan Ciledug. "Pembangunan stadion tersebut memperoleh bantuan kredit lunak sebesar 12,5 juta dollar AS dari pemerintah Uni Soviet," tulis Julius Pour dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno.

Saat meresmikan stadion pada 21 Juli 1962, Bung Karno mengklaimnya sebagai yang terhebat di dunia. "Saya sudah keliling dunia melihat stadion di Rio de Janeiro, sudah melihat stadion di Warsawa, di Mexsiko, dan di negara-negara lain. Wah..Stadion Utama ini adalah yang terhebat di seluruh dunia," ujarnya dengan gaya orasinya yang khas.

Klaim itu tak berlebihan, sebab stadion berdaya tampung 110.000 orang ini punya satu keunikan yakni atap temu gelang, yang pertama kali diterapkan di dunia. Sukarno, tulis Julius Pour, mendapat inspirasi atap temu gelang ketika melihat air mancur di halaman Museo Antropologia de Mexico di Mexico City.
Di luar soal teknis bangunan dan arsitektur, sesungguhnya ada satu hal menarik yang tak banyak diketahui khalayak. Semula, Maladi yang dilantik menjadi Menteri Olahraga pada April 1962 mengusulkan kepada Presiden agar kompleks olahraga di Senayan itu dinamai 'Pusat Olahraga Bung Karno'.

Tapi Menteri Agama Saifuddin Zuhri yang hadir dalam acara minum kopi pagi di serambi belakang Istana Merdeka mengusulkan nama lain. Ia berpendapat, nama Pusat Olahraga tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga. Baginya, kata 'pusat' pada kalimat 'Pusat Olahraga' itu terdengar tidak dinamis.

"Nama 'Gelanggang Olahraga' lebih cocok dan lebih dinamis," tutur Saifuddin dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Maladi dan Menteri Dalam Negeri dr. Soemarno Sosroatmodjo, serta beberapa pejabat sipil dan militer yang turut dalam perbincangan menyetujuinya. Tak kecuali Bung Karno.

Nama Gelanggang Olahraga Bung Karno, Saifuddin melanjutkan, kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno. "Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga."
"Wah, itu nama hebat. Aku setuju!," ujar Bung Karno seraya menjabat tangan Saifuddin dengan air muka cerah. Sukarno lantas memerintahkan Maladi untuk mengganti nama Pusat Olahraga Bung Karno menjadi Gelora Bung Karno.

Sayang, dalam rangka desukarnoisasi, penguasa Orde Baru mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Tapi di awal reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid kemudian mengembalikan nama Gelora Bung Karno pada 2001.
(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed