DetikNews
Minggu 22 Oktober 2017, 20:24 WIB

Pimpinan DPR Minta Calon Pemimpin Tak Hanya Kejar Popularitas

Elza Astari Retaduari - detikNews
Pimpinan DPR Minta Calon Pemimpin Tak Hanya Kejar Popularitas Foto: Taufik Kurniawan di acara KOKAM Muhammadiyah. (Dok Istimewa).
Jakarta - Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menyoroti soal berbagai survei jelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Dia mengingatkan agar para calon pemimpin tak hanya mengejar popularitas tapi benar-benar bekerja secara nyata.

"Saya harap calon pemimpin jangan kerja hasil survei namun harus menunjukkan darma bakti bagi bangsa dan negara Indonesia," ujar Taufik dalam keterangannya, Minggu (22/10/2017).

Hal tersebut dia sampaikan saat berorasi dalam cara pembukaan Jambore Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) wilayah Jawa Tengah, di Karang Anyar, Jateng, hari ini. Taufik pun menyoroti soal peran besar Muhammadiyah dalam mencetak tokoh-tokoh bangsa. Namun dia memberikan sedikit imbauan.

"Calon pemimpin harus Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatonah serta jangan bersikap 'sok' berkuasa dan jangan menjadi pemimpin karbitan," tuturnya.


Taufik mengatakan, di setiap perjuangan kebangsaan, Muhammadiyah selalu ikut andil. Untuk itu dia mengajak para pemuda Muhammadiyah untuk tidak hanya sekedar menjadi penonton dan harus menjadi garda terdepan dalam peningkatan reformasi.

"Pemuda Muhammadiyah harus menjadi pemimpin, apakah itu Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota, Wakil Wali Kota, bahkan menjadi Presiden atau Wakil Presiden. Karena itu kita tidak boleh menjadi penonton dan pelengkap penderita namun harus memberikan apa yang kita miliki untuk bangsa Indonesia," kata Taufik.

Dia mengingatkan kepada KOKAM dan Pemuda Muhammadiyah untuk ambil bagian memberikan kemampuannya kepada bangsa Indonesia. Taufik memberikan semangat kepada para pemuda Muhammadiyah dalam kesempatan itu.

"Para pemuda-pemuda Muhammadiyah, Pemudah Indonesia pada umumnya, jangan hanya bertopang dagu, berpangku tangan. Mari kita isi kemerdekaan kita, mari kita darmabaktikan kemampuan yang ada pada Pemuda Muhammadiyah sesuai dengan jiwa sumpah pemuda," tegas Waketum PAN itu.

Apel Jambore KOKAM ini dalam rangka menyambut hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Dalam pidato kebangsaan yang disampaikan Taufik, dia juga mengenang pengorbanan Jenderal Besar Sudirman untuk Republik Indonesia. Jenderal Besar Sudirman adalah salah satu kader terbaik Muhammadiyah, dia pernah menjadi kepala sekolah, di Sekolah Dasar Muhammadiyah, ia juga aktif dalam kegiatan kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Selain itu Sudirman juga pernah menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.

Pimpinan DPR Minta Calon Pemimpin Tak Hanya Kejar PopularitasFoto: Taufik Kurniawan di acara KOKAM Muhammadiyah. (Dok Istimewa).


Taufik juga mendorong para pemuda Muhammadiyah bisa mengisi hasil dari reformasi politik 1998. Menurutnya, demokrasi Indonesia yang memberikan kesempatan kepada semua anak bangsa tanpa membedakan latar belakang untuk bisa terjun menjadi pemimpin politik. Karena pada masa orde baru, kebebasan berpolitik dibatasi oleh rezim yang berkuasa.

Taufik juga berpesan, pemuda yang diberikan kesempatan menjadi pemimpin politik jangan sampai tak tentu arah. Dia mengatakan, KOKAM adalah tonggak sejarah perjuangan bangsa, karena KOKAM ikut berkontribusi memberantas komunisme. Selain itu, dia juga mengatakan Muhammadiyah juga memiliki prinsip toleransi otentik, dan itu sudah ada sejak kelahiran Muhammadiyah 1912.

"Jangan menjadi pemimpin yang 'letha lethe' (tak tentu arah). Jangan menjadi pemimpin yang sok kuasa," tegas Taufik.

Acara apel ini juga dihadiri oleh Bupati Karanganyar, Juliyatmono dan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahniel Anzar Simanjuntak. Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak yang memberikan sambutan, meminta kesiapan para anggota KOKAM dalam menjaga dan membela persaudaraan kebangsaan serta mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika.

"Tolerasi yang otentik. Bukan toleransi yang propagandis. Yang tumbuh dari kesadaran diri. Bukan dari sikap keberpuraan. Toleransi tidak boleh menjadi komoditas politik," tutur Dahnil.
(elz/ams)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed