DetikNews
Minggu 22 Oktober 2017, 12:29 WIB

Kisah Pilu Afis, Anak Yatim yang Idap Kelainan Hati dan Gizi Buruk

Agus Setyadi - detikNews
Kisah Pilu Afis, Anak Yatim yang Idap Kelainan Hati dan Gizi Buruk Foto: Afis Munanzar dirawat di RSU Zainal Abidin, Aceh (Agus-detikcom)
Banda Aceh - Afis Munanzar tertidur lemas di atas ranjang Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh, Aceh. Tubuhnya kurus kering. Tulang-tulang rusuk bocah 12 tahun itu dapat dengan mudah dihitung. Kedua bola matanya kuning. Selembar kain sarung menutup setengah tubuh mungilnya.

Afis sejak sebulan lalu dirawat. Yatim lima bersaudara ini didiagnoasa menginap kelainan hati. Tim dokter harus bekerja ekstra untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Pasalnya, selain punya gejala kelainan hati, Afis juga mengalami gizi buruk.

"Dia awalnya merasa lemas, nafsu makan berkurang. Yang namanya hepatitis kan kuning-kuning kan jadi itulah kuning-kuning. Gejala itu sudah lama tapi yang begitu menonjol setelah 17 Agustus," kata Lina Farsiyah (43), ibu kandung Afis saat ditemui di rumah sakit, Sabtu (21/10/2017) malam.

Bocah asal Desa Rambong Meunasah Ugadeng, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Aceh ini kini dirawat di ruang isolasi RSUZA. Menurut Lina, tim dokter mendiagnosa anaknya mengidap gejala kanker. Hati anak bungsunya sudah kuncup dan tidak dapat mengembang lagi.

Untuk pemulihan, dokter menyarankan agar Afis rutin makan agar gizinya bertambah. Lina tidak tahu persis gejala awal yang diderita anaknya sehingga diboyong ke rumah sakit. Selama ini, Afis diasuh oleh kakak dan abang kandungnya.

Kisah Pilu Afis, Anak Yatim yang Idap Kelainan Hati dan Gizi BurukFoto: Afis Munanzar dirawat di RSU Zainal Abidin, Aceh (Agus-detikcom)

Lina sendiri sejak tujuh tahun lalu merantau ke Malaysia untuk mencari nafkah. Di negeri Menara Kembar tersebut, Lina bekerja di sebuah restoran. Honor yang diterimanya dia kirim ke kampung sebagai bekal hidup lima buah hatinya. Baru seminggu lalu dia kembali menginjak kaki di Tanah Rencong.

"Umur Afis dua tahun, suami saya meninggal. Umur dia (Afis) empat tahun saya ke Malaysia untuk mencari rezeki," jelas Lina.

Begitu mendapat kabar sang buah hati masuk rumah sakit, Lina mengajukan cuti ke bos restoran. Persoalan berikutnya datang. Dia tidak punya biaya pulang. Beruntung, saudara-saudaranya di kampung membantunya sehingga mengirimkan biaya agar Lina dapat menjenguk anaknya.

"Kakaknya kabari saya Afis sudah drop, sudah koma, sudah tidak bisa bernafas (sesak). Perasaan ibu gimanalah, ibu tidak pernah rawat dia dari kecil, dia tinggal sama kakaknya," ungkap Lina dengan logat melayu.

Sebelum dirujuk ke RSUZA, Afis sudah pernah dirawat di rumah sakit di Beuruenuen selama satu bulan. Sejak dirawat, Afis terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah dan pengajian. Meski tim dokter menyebut gejala kelainan hati yang diidap Afis sejak kecil, namun pihak keluarga mengaku tidak mengetahui penyakit yang diderita anaknya.

"Walaupun dokter bilang dari bayi tapi belum menonjol penyakitnya. Baru umur 12 tahun menonjol karena kelelahan, capek, karena kurang pengontrolan kita," kata Lina.

Tadi malam, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Muharuddin dan rombongan menjenguk Afis. Mereka sempat berbincang-bincang beberapa saat. Ketika hendak meninggalkan ruangan, Muharuddin memberikan sumbangan untuk Afis.

Menurut Muharuddin, dirinya mengetahui soal kondisi Afis dari media sosial. Dia berinisiatif datang menjenguk terlebih setelah tahu Afis mengidap penyakit kronis.

"Ada kemajuan, dari pertama masuk kembungnya barang kali lebih besar sekarang relatif menurun. Berat memang untuk memulihkan perbaikan gizi mungkin perlu waktu tapi kita harapkan rumah sakit memberikan penanganan yang terbaik. Kalau seandainya hasil evaluasi nanti yang bersangkutan harus dirujuk maka harus sesegara mungkin dirujuk," kata Muharuddin.

Sementara itu, Wakil Direktur Penunjang RSUZA, dr Nurnikmah, MKes, mengatakan, penanganan yang dilakukan tim dokter saat ini yaitu memperbaiki terlebih dulu keadaan umumnya mulai dari gizi hingga metabolismenya. Setelah itu, baru dipikirkan langkah selanjutnya.

"Kondisi pasien masih lemah tapi sadar penuh tidak ada kendala, nafsu makan baik, keluhan sesak sudah berkurang. Diagnosanya ada kelaninan di hatinya," kata Nurnikmah.

"Jika tidak bisa ditangani pasti dirujuk, sejauh ini masih bisa ditangani di RS ini," ungkap Nurnikmah.


(idh/idh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed