DetikNews
Sabtu 21 Oktober 2017, 12:53 WIB

Dokumen AS: China dan Bantuan Senjata G30S 1965, Hoax 

Erwin Dariyanto - detikNews
Dokumen AS: China dan Bantuan Senjata G30S 1965, Hoax  Telegram rahasia Kedubes AS di Jakarta yang dibuka ke publik. (Foto: Erwindar)
Jakarta -

Berita hoax atau bohong tak hanya terjadi di era milineal seperti sekarang ini. Tahun 1965 saat terjadi tragedi pembunuhan enam jenderal dan 1 perwira TNI AD oleh sebuah Gerakan 30 September, berita hoax juga diproduksi kemudian.

Hoax dimaksud antara lain terkait bantuan 30 ribu senjata dari China seperti diberitakan harian Angkatan Bersenjata terbitan 25 April 1966. Tiga artikel yang muncul dalam edisi tersebut bertajuk, "Kisah Gagalnya Coup Gestapu jang Dimasak di Peking", "Rezim Peking Perintahkan Bunuh 7 Djenderal & Semua Perwira Reaksioner", dan "RRT Sanggupi Pengiriman Sendjata & Perlengkapan untuk 30.000 Orang".

Harian itu menceritakan pertemuan petinggi PKI DN Aidit dengan tokoh Partai Komunis China, Mao Zedong. Dalam pertemuan isu yang dibahas antara lain rencana penggulingan Presiden Sukarno. Untuk itu Mao menjanjikan bantuan sebanyak 30 ribu pucuk senjata ke Aidit.

Kudeta untuk Sukarno dirancang akan dilakukan pada 5 Oktober 1965. Namun setelah tiba di Jakarta, Aidit mendapat perintah dari China agar kudeta dilakukan pada 1 Oktober.

"Ini adalah bagian dari seri fiktif yang secara jelas ditulis untuk menertawakan rezim peking," tulis kabel diplomatik Kedubes AS seperti dikutip detikcom dari nsarchive2.gwu.edu. "Semua hal tersebut di atas adalah produk imajinasi si penulis," bunyi lanjutan dalam dokumen tersebut. Telegram rahasia itu tercantum dalam dokumen ke-28 dari 39 file (1964 hingga 1968) yang dibuka ke publik sejak Selasa (17/10/2017).

Terkait G30S 1965, pada November 2008 pemerintah RRC juga pernah membuka dokumen diplomasi mereka dalam kurun waktu 1961-1965. Namun pada musim panas 2013 Kementerian Luar Negeri RRC menutup kembali dokumen-dokumen tersebut. Beruntung Taomo Zhou yang tengah mempersiapkan disertasi di Universitas Cornell sempat membaca dan memanfaatkan arsip tersebut.

Dalam papernya, "Tiongkok dan G30S", Taomo menulis Mao Ze Dong memang tertarik untuk mendorong revolusi di Asia Tenggara, tapi dia tak sampai menganjurkan PKI untuk melancarkan perjuangan bersenjata menentang Sukarno. Beijing malah mendorong PKI untuk melanjutkan kebijakan front persatuan dengan Presiden. Tujuan utamanya adalah mengeksploitasi konfrontasi Indonesia menentang pembentukan Malaysia sebagai penyeimbang kekuatan Barat di Asia Tenggara.

"Pada awal 1965, PM China Zhou En Lai mengumumkan bahwa Tiongkok dalam posisi sebagai teman Indonesia, tak akan berpangku tangan kalau imperialism Barat berani menyerbu Indonesia," tulis Taomo.

Walaupun revolusi Tiongkok menjadi contoh yang mungkin diikuti PKI, dia melanjutkan, posisi Partai Komunis China tetap pada pendirian bahwa perjuangan bersenjata bukan merupakan strategi terbaik di Indonesia.

Ikhwal bantuan senjata yang pernah dijanjikan, Taomo berkeyakinan hingga G30S 1965 meletus senjata-senjata itu sebenarnya belum sampai di Indonesia. Sebab proses administrasinya belum tuntas, juga perlu waktu untuk perakitan, pengepakan, hingga pengangkutan dan distribusinya.

Fakta lain menunjukan, dibanding RRC bantuan Uni Soviet kepada Indonesia justru lebih nyata. Jumlah bantuan persenjataan Soviet kepada Indonesia sejak 1960-an diperkirakan berkisar antara 600 ribu -1,2 juta dollar.

"Jadi, sulit untuk secara pasti menganggap kalau bantuan militer Tiongkok memiliki dampak yang cukup signifikan dalam menentukan perkembangan politik di Indonesia pada 1965," tulis Taomo Zou.

Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam mengatakan, fakta bahwa keterlibatan China dan pengiriman senjata dari negeri itu ke Indonesia jelang 1965 adalah hoax merupakan bukti baru. Fakta ini menarik untuk hditeliti lebih lanjut.

"Arsip yang baru dibuka ini memperlihatkan hal-hal yang baru. Misalnya tidak ada pengiriman ribuan senjata ke Indonesia dan soal keterlibatan China yang ternyata hoax ini menarik," kata Asvi.




(erd/jat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed