"Ya silakan saja beliau maju kembali menjadi calon Presiden RI di tahun 2019. Itu hak beliau," ujar Ace saat dihubungi, Jumat (20/10/2017).
Namun Ace percaya Prabowo mempunyai perhitungan yang matang, sehingga ia tidak meragukan kualitas Prabowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Ace menjelaskan Prabowo bisa menjadi pesaing Jokowi dalam Pilpres 2019 jika mendapatkan dukungan yang cukup dari partai yang lain.
"Jika mendapatkan dukungan yang mencukupi dari partai lain, selain Partai Gerindra, tentu bisa saja," ucap Ace.
Seperti diketahui, Prabowo Subianto sudah dua kali gagal dalam pilpres. Namun ambisinya seolah tak pernah lekang oleh waktu.
Ambisi Prabowo yang tak pernah padam itu jelas sekali terdengar dari pidatonya di Konferensi Nasional dan Temu Kader Gerindra di SICC, Bogor, Rabu (18/10). Acara tersebut sebenarnya tertutup, namun akun resmi Gerindra mempublikasikan lengkap dengan pidato Prabowo yang jelas-jelas mengamini ambisinya yang tak pernah padam.
"Kalau sekarang dibilang Prabowo ambisi jadi presiden, kenapa tidak," kata Prabowo sebagaimana dikutip dari akun Facebook Gerindra, Kamis (19/10).
Namun elektabilitas Prabowo saat ini kalah jauh dari Presiden Jokowi. Elektabilitas mantan Danjen Kopassus tersebut menurun cukup drastis dari sebelumnya.
Setidaknya ada dua lembaga survei yang memetakan kekuatan elektabilitas Prabowo Subianto saat ini. Jelas sekali pesaing Prabowo masih sama dengan yang mengalahkannya dalam Pilpres 2014, yakni Joko Widodo.
Hasil riset lembaga Median yang melakukan survei elektabilitas capres pada 14-22 September 2017 menunjukkan elektabilitas Jokowi masih di angka 36,2%, sedangkan Prabowo berada di urutan kedua dengan elektabilitas 23,2%. Pada kisaran waktu survei yang hampir sama, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga mengukur peta kekuatan capres secara nasional.
Baca juga: Ambisi Versus Kekuatan Prabowo Kini |
Survei yang digelar pada 3-10 September 2017 dengan 1.220 responden yang dipilih secara acak ini menunjukkan elektabilitas Prabowo semakin tenggelam. Berdasarkan hasil top of mind, Jokowi meraih hasil 38,9%. Ia unggul jauh dari Prabowo, yang duduk di posisi ke-2, dengan 12,0%.
SMRC juga menggelar survei dengan metode semiterbuka. Hasilnya, Jokowi lagi-lagi unggul dengan perolehan 45,6% dan Prabowo di posisi ke-2 dengan 18,7%. SMRC mengambil kesimpulan elektabilitas Prabowo tak mengalami kemajuan.
"Dalam 3 tahun terakhir, bagaimanapun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik dan belum ada penantang cukup berarti selain Prabowo. Prabowo pun cenderung tidak mengalami kemajuan," ujar Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan dalam jumpa pers di kantornya, Jl Cisadane, Jakpus, Kamis (5/10). (lkw/elz)











































