Survei elektabilitas capres menjelang Pemilu 2019 dirilis Lembaga Media Survei Nasional (Median) pada 2 Oktober 2017. Hasilnya, Presiden Jokowi menempati posisi teratas dengan perolehan suara 36,2%. Ia unggul jauh dari Prabowo, dengan 23,2%.
Namun, jika diakumulasi, ada 40,6% publik yang ingin capres alternatif selain Jokowi dan Prabowo. "Saat ini, terlihat publik menginginkan adanya alternatif figur kepemimpinan nasional selain Jokowi dan Prabowo. Bisa dilihat dari jumlah pemilih yang menjawab tidak ingin keduanya sebesar 40,6%. Ini lebih besar ketimbang pilihan terhadap Jokowi atau pilihan terhadap Prabowo," ujar Direktur Eksekutif Median Rico Marbun di Rumah Makan Bumbu Desa Cikini, Jakpus, Senin (2/10) lalu.
Elektabilitas prabowo juga masih tertinggal dari Jokowi berdasarkan rilis lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Berdasarkan hasil top of mind, Jokowi meraih hasil 38,9%. Ia unggul jauh dari Prabowo, yang duduk di posisi ke-2, dengan persentase 12,0%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SMRC juga menggelar survei dengan metode semiterbuka. Hasilnya, Jokowi lagi-lagi unggul dengan perolehan 45,6% dan Prabowo di posisi ke-2 dengan 18,7%.
"Dalam 3 tahun terakhir, bagaimana pun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik dan belum ada penantang cukup berarti selain Prabowo. Prabowo pun cenderung tidak mengalami kemajuan," paparnya.
Baca Juga: Survei Pilpres SMRC: Jokowi 38,9%, Prabowo Tinggal 12%
Prabowo lagi-lagi kalah jauh oleh Jokowi menurut survei Indikator Politik. Survei pertama Indikator Politik memberi pertanyaan terbuka kepada masyarakat soal siapa yang akan mereka pilih jika pilpres dilakukan sekarang (waktu survei 17-24 September 2017). Sebanyak 34,2 persen responden akan memilih Jokowi dan 11,5 persen akan memilih Prabowo.
Survei Indikator Politik juga mengurutkan 2 nama antara Prabowo dan Jokowi jika pilpres dilakukan saat waktu survei. Hasilnya, 58,9 persen responden akan memilih Jokowi dan 31,3 persen akan memilih Prabowo. Sebanyak 9,8 persen memilih tidak menjawab dan tidak tahu.
Meski elektabilitasnya menurut sejumlah lembaga survei merosot jauh, Prabowo memandang ambisinya maju di Pilpres 2019 tetap baik. "Kalau sekarang dibilang Prabowo ambisi jadi presiden, kenapa tidak. Maksud saya ambisi itu baik, anak muda harus ambisi. Kalau tidak ambisi kau di rumah aja, nggak usah selesaikan SMP, mau jadi apa?" kata Prabowo, Rabu (18/10).
Prabowo menyatakan, dengan adanya ambisi, kehidupan dalam suatu negara itu akan dinamis. Anak-anak muda, kata dia, harus memiliki ambisi untuk maju.
"Ambisi itu perlu, negara dinamis butuh anak-anak muda yang punya ambisi. Kalau Anies-Sandi tidak punya ambisi, kita repot," ujar Prabowo.
Ambisi Prabowo ini mendapat dukungan dari sejumlah pihak, salah satunya Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. "Itu hak dia sebagai ketua umum dan ketua dewan pembina dari satu parpol yang perolehan pemilu tahun lalu itu ketiga ya," kata Fahri di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (19/10).
Namun ada juga yang menilai ambisi Prabowo itu tak baik untuk regenerasi. Menurut Ketua Dewan Pakar DPP Golkar Agung Laksono, Prabowo sudah 10 tahun ikut mencalonkan diri sebagai presiden.
"Ya seharusnya ada regenerasi. Sudah 10 tahun kan sudah cukup lama. Selama 10 tahun melahirkan hal-hal yang baik yang bisa untuk nyapres Gerindra," kata Agung kepada wartawan, Kamis (19/10).
Meski demikian, kata Agung, ambisi Prabowo menjadi presiden merupakan hak pribadi. Menurut dia, mungkin saja dalam kesempatan ketiga kalinya ini baru berhasil.
"Ya hak dia. Masyarakat hanya menilai, karena ini hak pribadi beliau. Prabowo punya cara sendiri untuk menyampaikan kepada masyarakat. Dan terkesan tidak mencalonkan kader bisa nyapres dari partai yang sama capres tidak hanya maker gitu," jelas Agung.
Masih mungkinkah ambisi Prabowo ini membawanya mendulang sukses untuk menjadi presiden seperti yang selama 10 tahun itu didambakannya? (nvl/elz)











































