Dalam keterangan tertulis dari Pemprov Jateng, Kamis (19/10/2017), Ganjar menyampaikan imbauan tersebut saat mengunjungi Silihwarni yang sakit lumpuh selama 13 tahun di rumahnya Desa Buko, Kecamatan Wedung, Demak, Rabu (18/10/2017).
"Coba tengok tetangga kanan kiri masing-masing. Siapa tahu ada yang sakit keras, ada yang miskin sekali tidak bekerja. Kalau warga masih bisa membantu ya swadaya dulu, kalau sudah tidak bisa, bisa melapor ke saya," katanya.
Ganjar menceritakan, dirinya sering mendapat laporan orang sakit di suatu daerah. Warga tersebut sudah sakit lama dan tidak mendapat perhatian dari warga sekitar maupun pihak desa atau kelurahan. "Makanya ayo kita peduli tetangga, rasa kemanusiaannya dan kepeduliannya ditingkatkan," katanya.
Laporan pada Ganjar bisa dilayangkan melalui twitter @ganjarpranowo, website Lapor Gub, atau via SMS center. Setiap laporan akan ditindaklanjuti oleh petugas tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) dari Dinas Sosial Pemprov Jateng. Petugas TKSK di Jateng berjumlah 573 dengan satu petugas membawahi satu kecamatan.
Ganjar telah memerintahkan dinas sosial memaksimalkan TKSK untuk melayani laporan warga. Mereka harus menjemput warga yang sakit keras untuk dibawa ke rumah sakit. "Langsung SMS saya juga bisa. Begitu dapat laporan, maksimal dua jam petugas sudah ke lokasi, kita tangani apakah dikirim bantuan atau dibawa ke rumah sakit," katanya.
Sedangkan Silihwarni langsung dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang. Ganjar meminta ajudannya berkoordinasi dengan pihak rumah sakit agar menangani Silihwarni dengan serius. Saat itu juga ambulans datang untuk membawa pasien ke Semarang.
Ketika Ganjar datang, Silihwarni yang hanya bisa terbaring, terus menangis. Ia mengaku senang dan terharu dijenguk gubernur. "Tiga belas tahun tidak pernah dapat bantuan pemerintah, tapi sekarang Pak Gubernur ke sini, terima kasih Pak," kata dia.
Kepada Ganjar, Silihwarni bercerita kelumpuhannya akibat kecelakaan lalu lintas 13 tahun lalu. Kedua kakinya tak bisa bergerak, tangan kanan hanya bisa bergerak terbatas. Praktis selama belasan tahun ini ia melakukan seluruh aktifitas keseharian di tempat tidur.
"Jangankan jalan, miring saja tidak bisa sendiri. Makan, mandi, buang air besar ya di sini," kata perempuan yang akrab disapa Warni ini.
Berbagai cara pengobatan sudah dijalani Silihwarni. Dari medis sampai alternatif. Namun belum juga menampakkan hasil.
Sejak kecil Silihwarni tidak tinggal bersama orang tuanya. Ia hidup bersama neneknya. Ketika nenek meninggal, dia dirawat bibinya, Miharti (49), seorang perempuan yang agak terganggu pendengarannya.
Keduanya tinggal di gubuk berukuran 2,5x5 meter. Itupun pinjaman dari saudara. Demi merawat keponakannya, Miharti rela tidak menikah. Ia bekerja menjadi pembantu di rumah-rumah tetangganya.
Belakangan, sejumlah tetangga berinisiatif urunan untuk membuatkan warung kecil-kecilan. Hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Yang berjualan ya njenengan? Luar biasa. Ya pokoknya sekarang tetap semangat ya, kita usahakan pengobatan di Semarang, mudah-mudahan sembuh," kata Ganjar.
(nwy/ega)











































