DetikNews
Rabu 18 Oktober 2017, 06:27 WIB

Bus & Angkot Butut akan Hilang Bertahap di Jalanan Jakarta

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Bus & Angkot Butut akan Hilang Bertahap di Jalanan Jakarta Ilustrasi metromini. (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom).
Jakarta - Masih sering menjumpai bus kota dan angkutan butut di jalanan Jakarta dengan pelayanan, keselamatan dan keamanan ala kadarnya? Bus dan angkutan butut akan dihilangkan dari jalanan Jakarta secara bertahap.

Salah satu moda yang busnya masih butut dan suka parkir di pinggir jalan alias tak punya pool adalah Metromini.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono mengatakan sekarang sudah merangkul pihak Metromini untuk merevitalisasi armadanya.

"Mereka sudah mau untuk merevitalisasi armadanya. Ini sedang dilakukan," tutur Bambang.


Ke depan, angkutan umum itu standar pelayanan minimalnya haruslah berpendingin udara, dan mesti punya garasi untuk menyimpan armadanya.

Bila saat ini bus butut itu masih beroperasi, itu lantaran memang masih dibutuhkan armadanya.

"Jabodetabek itu ya, pergerakan orangnya sehari itu mencapai 40 juta. Di Jakarta saja 20 juta," tutur Bambang saat berbincang di kantor detikcom, Jl Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Senin (16/10/2017).


Pemerintah sedang membangun moda transportasi berbasis rel yakni Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT). Bila moda ini jadi, akan mengurangi jumlah pergerakan orang di Jakarta yang sebanyak 20 juta per hari itu.

"Bila MRT dan LRT jadi, dipadukan dengan bus TransJ, itu bisa mengangkut baru 6 juta pergerakan orang," imbuhnya.

Artinya, masih ada ekses 14 juta orang yang butuh diangkut. Itu adalah kondisi bila semua moda transportasi massal sudah tersedia beberapa tahun lagi.


Bila sekarang bus butut masih berkeliaran di jalan karena memang masih dibutuhkan. Namun perlahan BPTJ akan merangkul semua provider transportasi umum, mendorongnya untuk revitalisasi armada dan menerapkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang telah disebutkan tadi.

"Nantinya bagaimana warga Jabodetabek ini akan mudah pindah antarmoda. Sudah mulai dengan layanan JR Connexion, Transjabodetabek Premium. Nanti kami akan membuat juga pelayanan dari pemukiman ke stasiun dan sebaliknya," papar Bambang.

Ditargetkan dengan adanya pelayanan transportasi massal antar moda itu bisa mengurangi 50 persen pengguna kendaraan pribadi di tol yang mengarah ke Jakarta. Kondisi sekarang, kecepatan di tol rata-rata 11-12 km per jam.


Upaya lainnya adalah membatasi operasional truk golongan 4-5 di jam-jam tertentu. Truk golongan ini, imbuh Bambang, kecepatannya sangat rendah.

"Bila semua upaya itu sudah dilakukan, diharapkan kecepatan di tol bisa mencapai 30 km per jam," tuturnya.

Maka diharapkan kerugian ekonomi sebesar Rp 100 triliun per tahun di Jabodetabek, termasuk di Jakarta Rp 60 triliun per tahun, karena kemacetan bisa dihindari.
(nwk/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed