"Setelah itu, hanya 2 atau 3 tahun sekolah sudah rusak, sudah pecah-pecah, retak, dan belah," kata Asep saat dimintai konfirmasi detikcom di Serang, Banten, Selasa (17/10/2017).
Lalu, pada 2016, dilakukan perencanaan untuk merehabilitasi SD Bantarpanjang. Namun pihak kontraktor tidak ada yang berminat dan kemudian gagal lelang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SD Bantarpanjang, Serang, yang hampir roboh. (Bahtiar/detikcom) |
Karena gagal lelang, pada 2017 Dinas Pendidikan mengusulkan untuk rehabilitasi ke Dinas Perumahan dan Permukiman. Usulan tersebut dilakukan karena kewenangan rehabilitasi ada di dinas tersebut.
Selain SD Bantarpanjang, Dinas Pendidikan mengusulkan SD Rancadadap, yang kondisinya memprihatinkan, untuk dibangun.
SD Bantarpanjang, Serang, yang hampir roboh. (Bahtiar/detikcom) |
Asep melanjutkan, setelah Dinas Perumahan dan Permukiman melihat kondisi SD Bantarpanjang, ternyata tanah di lokasi sekolah berdiri labil dan terus bergerak. Dinas Perumahan, menurutnya, membuat prakiraan bahwa sekolah tidak bisa direnovasi. Selain itu, dibuat kajian mengenai tanah dan rencana relokasi sekolah.
"Jadi usulan yang kita sudah ajukan dan anggaran yang sudah ada dalam kantong anggaran di Perumahan dan Permukiman tidak bisa dilaksanakan," ujarnya.
Asep juga mengaku sudah mengecek ke bagian Unit Layanan Pengadaan (ULP) mengenai kenapa terjadi gagal lelang untuk pembangunan rehabilitasi SD Bantarpanjang. Ternyata, dari penjelasan pihak ULP, Dinas Perumahan pun tidak mengajukan untuk dilakukan lelang.
"Dinas Perumahan tidak mengajukan dengan pertimbangan, kalau dilelang harus, dilaksanakan di tanah yang itu, sedangkan proyek tidak bisa dikerjakan. Artinya, Dinas Perumahan harus melakukan kajian tentang tanah, lalu misalnya nanti ada pengadaan tanah baru, baru proses relokasi," katanya.
SD Bantarpanjang, Serang, yang hampir roboh. (Bahtiar/detikcom) |
SD Bantarpanjang terletak di Kecamatan Cikeusal, Serang. Kepala Sekolah bernama Cicih Sri Asih sebelumnya mengatakan ada 65 siswa yang mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Siswa kelas I dan II menggunakan kelas secara bergantian. Kelas III dan kelas IV menggunakan lokal yang sama tanpa menggunakan sekat.
Kondisi kelas yang paling rusak terdapat di kelas VI. Ruangan ini, menurut Cicih, masih digunakan untuk sekolah siswa.
"Harapannya ke depan, pemerintah membangun kembali agar masyarakat belajar dengan tenang," katanya kepada wartawan pada Senin (16/10). (bri/idh)












































SD Bantarpanjang, Serang, yang hampir roboh. (Bahtiar/detikcom)
SD Bantarpanjang, Serang, yang hampir roboh. (Bahtiar/detikcom)
SD Bantarpanjang, Serang, yang hampir roboh. (Bahtiar/detikcom)