Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran menuturkan tindakan persekusi mencuat saat momen Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Dia menilai fenomena persekusi saat itu terjadi dengan luar biasa.
"Dalam proses Pilkada DKI, kita mengenal adanya persekusi. Orang-orang yang dianggap melanggar hak orang lain diperksekusikan dan lalu kemudian dilakukan tindakan-tindakan tidak mengenakkan," kata Fadil dalam seminar bertajuk 'Bahaya Hoax Melalui Media Sosial sebagai Ancaman Disintegrasi Bangsa' di auditorium PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (17/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadil mengatakan media sosial di Indonesia memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, semestinya media sosial dapat memberi manfaat.
"Namun seiring dengan perkembangan di Indonesia saat ini, media sosial banyak digunakan untuk hal-hal yang negatif yang mengarah pada disintegrasi," ujar Fadil.
Fadil mencontohkan kasus penganiayaan Brigadir Hanafi oleh kelompok The Jakmania. Kasus tersebut berawal dari provokasi di media sosial.
"Kasus-kasus yang berawal dari provokasi di media sosial, contoh sederhana misalnya kasus Jakmania menyerang polisi di GBK. Ada sebuah komunitas di situ yang memprovokasi ke teman-temannya 'musuh kita itu polisi'," terang Fadil.
"Itu contoh bagaimana ujaran kebencian disebar di media sosial," sambung Fadil. (aud/idh)











































