Yang Tak Tertib Seperti di Tanah Abang Ini Harus Segera Dibenahi

Meilika Asanti - detikNews
Selasa, 17 Okt 2017 12:52 WIB
Suasana trotoar dan jalan di Tanah Abang. (Meilika/detikcom)
Jakarta - Trotoar jalan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kian ruwet oleh banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan. Trotoar makin terasa sumpek akibat banyaknya parkir liar di sekitar trotoar.

Berdasarkan pantauan di kawasan Pasar Tanah Abang, Jalan Jatibaru Raya, Jakarta Pusat, Selasa (17/10/2017), pedagang kaki lima dan parkir liar tampak di atas trotoar dan pinggir jalan. Lalu lintas di jalan sekitar trotoar pun menjadi macet dan penuh sesak.

Hiruk-pikuk pedagang kaki lima di trotoar serta bajaj dan angkot yang parkir di bahu jalan juga ojek online yang parkir di atas trotoar membuat lalu lintas jalan di kawasan tersebut makin macet saat jam sibuk.

Tidak banyak petugas, baik dari Dishub, Satpol PP, maupun kepolisian, yang berjaga di lokasi. Salah seorang polisi lalu lintas yang berjaga tampak kewalahan mengatur lalin.

Di beberapa sudut, ada petugas Satpol PP yang berjaga. Namun keberadaan petugas tersebut tak mempengaruhi pedagang yang berjualan.

"Ini sangat mengganggu ya. Apalagi kalau musim hujan, kita kan suka menunggu di sini. Jadi sempit. Apalagi banyak ojek ngetem di sini bikin macet," ujar salah seorang warga, Yal Tanjun (45).

Hal yang sama diungkapkan pejalan kaki lainnya, Megawati (40), yang mengatakan pedagang kaki lima di trotoar jalan sangat mengganggu. Menurutnya, keberadaan pedagang kaki lima di trotoar menghalangi pejalan kaki dan tidak baik dipandang mata.

"Lihat tempat lain itu enak dipandang, kayak di luar negeri, bisa tertata bersih kotanya. Tapi setidaknya sediain juga tempat buat para pedagang kaki lima. Kasihan juga mereka kalau tidak ada tempat. Ini PR buat gubernur baru, cari tempat lebih bagus untuk kaki lima biar nggak di pinggir jalan gini," jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang, Azizah (39), mengaku sudah 6 tahun berjualan di atas trotoar. Dia dan pedagang lain tahu bahwa trotoar tidak boleh digunakan untuk berjualan. Namun dia bersama pedagang lain tetap berjualan karena tidak ada yang menertibkan.

"Sudah 6 tahun di sini boleh saja, kalau di sini banyak pelanggannya," kata Azizah.

Azizah mengaku Satpol PP kerap mendatangi mereka. "Suka didatangi Satpol PP, tapi nggak tentu. Kalau ada Satpol ya pergi dulu, kita ngehargain dia (petugas) kan juga kerja," imbuhnya. (nvl/fdn)