DetikNews
Selasa 17 Oktober 2017, 07:33 WIB

Kiprah 3 Gubernur DKI Jakarta Dalam Satu Periode

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Kiprah 3 Gubernur DKI Jakarta Dalam Satu Periode Sebelum Anies-Sandi dilantik, pada periode 2012-2017, DKI Jakarta dipimpin oleh 3 gubernur. (Ilustrasi oleh Fahrur/detikcom)
FOKUS BERITA: Pelantikan Anies-Sandi
Jakarta - Estafet kepemimpinan DKI Jakarta telah berpindah ke Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Sebelumnya, selama periode 2012-2017 DKI Jakarta dipimpin 3 gubernur dalam satu periode. Seperti apa kiprahnya?

Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 diawali dengan kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) yang dilantik oleh Menteri Dalam Negeri kala itu Gamawan Fauzi. Jokowi dilantik bersama wakilnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin 15 Oktober 2012.

Selama masa kampanyenya, Jokowi-Ahok memiliki visi Jakarta baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik.

Pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017Pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 (Foto: Hasan Al Habshy/detikcom)

Beberapa janji Jokowi selama kampanye mulai terasa di hari ke 47 kepemimpinannya. Jokowi langsung membagikan 3.000 Kartu Jakarta Pintar (KJP) kepada siswa-siswi di Ibu Kota.

"Ini kan peluncuran pertama kartu pintar, dan tadi yang diluncurkan kira-kira 3.000," ujar Jokowi di SMA Yappenda, Jl. Swasembada Timur, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu 1 Desember 2012.

Kepemimpinan Jokowi juga mampu menyelesaikan pembangunan jalan layang non tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang. Penyelesaian proyek ini molor dari target semula yaitu pada tahun 2012.

Jokowi yakin jalan sepanjang 3,4 km itu bisa mengatasi kemacetan yang selalu melanda kawasan tersebut. "Kemacetan di Dr Satrio dan Casablanca berkurang total karena ini bisa terpecah di atas dan di bawah," kata Jokowi saat meresmikan JLNT Casablanca, Senin 30 Desember 2013.

Belum tuntas satu periode kepemimpinannya, pada Jumat 14 Maret 2014 Jokowi menyatakan diri siap untuk menjadi calon presiden yang diusung PDIP di Pilpres 2014. Jokowi mengaku telah mengantongi restu dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Saya telah mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk jadi capres. Dengan mengucap bismillah, saya siap melaksanakan," kata Jokowi di tengah blusukannya di Marunda, Jakarta Utara, Jumat 14 Maret 2014.

Jokowi-JK saat daftar sebagai capres-cawapres di KPU pada 2014 laluJokowi-JK saat daftar sebagai capres-cawapres di KPU pada 2014 lalu (Foto: Dok. Pool)

Jokowi kemudian cuti dari jabatan Gubernur DKI Jakarta setelah permohonan cutinya dikabulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 31 Mei 2014. Jokowi bersama cawapresnya Jusuf Kalla (JK) kemudian resmi mendaftar ke KPU sebagai Capres-Cawapres 2014 di KPU untuk Pilpres 2014.

Jokowi-JK terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019. Kepemimpinan DKI berpindah ke Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok dilantik Jokowi sebagai gubernur DKI pada 19 November 2014.

Jabatan Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta mendapat penolakan sejumlah ormas Islam salah satunya Front Pembela Islam (FPI). Ahok tak ambil pusing dengan berbagai penolakan terhadapnya, termasuk dari FPI. Ahok menilai tak harus semua pihak setuju dengan pelantikannya sebagai Gubernur DKI.

"Saya kira nggak semua orang bisa disenangi. Mau jadi gubernur, mau jadi presiden kan harus 50 persen plus satu. Nggak harus semuanya setuju," ujar Ahok.

Ahok saat meresmikan RPTRA KalijodoAhok saat meresmikan RPTRA Kalijodo (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)

Kepemimpinan Ahok diwarnai dengan beberapa penggusuran dan penertiban kampung kumuh. Salah satunya penertiban Kalijodo yang dirubah menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). RPTRA Kalijodo diresmikan pada 22 Februari 2017. Selain itu ada juga Pasukan Oranye yang selalu membersihkan beberapa sudut di Ibu Kota.

Ahok bersama wakilnya Djarot Saiful Hidayat maju ke pertarungan Pilgub DKI Jakarta 2017. Kepemimpinan DKI sempat diserahkan ke Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Soni Sumarsono. Soni resmi menjadi Plt Gubernur DKI selama masa cuti kampanye Ahok-Djarot di Pilgub DKI putaran pertama.

Pada putaran Pilgub DKI putaran pertama Soni menjabat dari tanggal 28 Oktober 2016 hingga 11 Februari 2017. Di Pilgub DKI putaran kedua Soni kembali menjabat Plt Gubernur DKI dari tanggal 7 Maret-15 April 2017.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja PUrnama (Ahok) meresmikan RPTRA Rasamala, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (29/4)Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja PUrnama (Ahok) meresmikan RPTRA Rasamala, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (29/4) (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Kepemimpinan di DKI Jakarta kembali berubah setelah Ahok divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara atas kasus penodaan agama. Djarot yang sebelumnya sempat menjadi Plt Gubernur mengganti Ahok, akhirnya resmi dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 15 Juni 2017.

Ada beberapa program kerja yang akan dikebut Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat di 4 bulan masa jabatannya sebagai gubernur. Program kerja itu antara lain yang berkaitan dengan RPTRA, infrastruktur hingga pembangunan taman di Kalijodo.

"Tahun ini selesai satu ya pengelola RPTRA ya dengan membentuk pasukan pink itu selesai, kemudian kajian akademis untuk RPTRA sebagai satu landasan untuk pengelolaan RPTRA ke depan dalam bentuk Raperda itu kita selesaikan," kata Djarot di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017).

Peresmian Simpang Susun Semanggi oleh Presiden Jokowi bersama Djarot Saiful HidayatPeresmian Simpang Susun Semanggi oleh Presiden Jokowi bersama Djarot Saiful Hidayat (Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom)

"Yang kedua, proses-proses registrasi terutama yang terkait dengan proses anggaran kita selesaikan mulai dari APBD-P sampai R-APBD 2018 diselesaikan, prosesnya tinggal selangkah lagi," imbuhnya.

Di kepemimpinan Djarot pembangunan jalan Simpang Susun Semanggi juga diresmikan. Simpang Susun Semanggi ini dibangun atas dana kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dari PT Mitra Panca Persada senilai Rp 579 miliar. Namun, pembangunan ini hanya menghabiskan dana sebesar Rp 345,067 miliar. Pemprov DKI akan menggunakan sisa dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur lainnya.
(nvl/jbr)
FOKUS BERITA: Pelantikan Anies-Sandi
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed