Din: Islam Sangat Responsif terhadap Tantangan Globalisasi

Din: Islam Sangat Responsif terhadap Tantangan Globalisasi

- detikNews
Rabu, 25 Mei 2005 18:17 WIB
Jakarta - Jangan dikira Islam tidak menyambut globalisasi yang terjadi saat ini. Justru, Islam sangat responsif terhadap tantangan globalisasi. Hal ini disampaikan Wakil Ketua PP Muhammadiyah yang juga Sekjen MUI (Majelis Ulama Indonesia) Din Syamsuddin saat bicara dalam diskusi di Melbourne University, Australia, Rabu (25/5/2005). Dalam diskusi itu Din membawakan makalah tentang dinamika Islam di Indonesia dan respons-nya dalam menjawab tantangan globalisasi. Menurut Din, Islam Indonesia sangat responsif terhadap tantangan globalisasi dan berupaya memberi jawaban Islam yang rasional dan kontekstual. "Bahwa ada variasi paham keagamaan adalah realitas yang perlu dilihat sebagai dinamika yang tidak perlu dirisaukan karena dialektika yang berkembang dapat mengarah kepada positivisme," kata Din. Din banyak ditanya tentang peran MUI dan ormas Islam dalam mendorong dinamika itu. "Saya katakan bahwa mereka sedang bergumul dengan keadaan dan dengan pendekataan dialogis persuasif mereka akan dapat memecahkan masalah yg ada dan menghadirkan Islam Indonesia yang rahmatan lilalamin," kata Din dalam rilisnya yang diterima detikcom. Hadir dalam diskusi ini antara lain Prof Abdulah Saeed, Prof Michael Leigh, Prof Arif Budiman, dan sejumlah calon doktor di Monash Unversity. Selain menjadi pembicara dalam diskusi tersebut, dalam kunjungan ke Australia di hari ketiganya ini, Din juga bertemu Direktur Australia-Indonesia Institute Muslim Exchange Program Philip King. Pertemuan membahas agenda kerja sama pertukaran ulama, cendekiawan, dan aktivis muda Islam. Rencananya, pada Kamis (26/5/2005), Din akan diterima oleh Jaksa Agung Phillip Ruddock dan Menteri Luar Negeri Alexander Downer serta ketua Konferensi Wali Gereja Australia Archbishop Frances P Carrol. Di hari kedua, Selasa (24/5/2005), Din berbicara dalam diskusi di Monash University tentang peran Islam dalam proses demokrasi di Indonesia. Din antara lain mengatakan, demokrasi di Indonesia sangat didukung umat Islam dengan alasan Islam kompatibel dengan demokrasi. "Tidak dapat dibayangkan demokrasi Indonesia berjalan tanpa peran umat Islam. Dan jika demokrasi terwujud di Indonesia maka yang paling diuntungkan adalah umat Islam sebagai kelompok mayoritas,"tegasnya. Diskusi yang dipimpin pengajar senior politik global di Monash University, Shahram Akbarzadeh, bertempat di Menzies Building Kampus Clayton. Hadir antara lain Prof John Legge, Prof Robert Rice, Prof Marika Vioziany, Susan Blackburn, dan Penny Graham serta sejumlah staf dan mahasiswa.Peserta diskusi banyak mempertanyakan gejala pasifisme politik di lapisan bawah. Menjawab pertanyaan tersebut, Din menuturkan, keberadaan kelompok minoritas kreatif cukup signifikan di Indonesia sehingga gejala pasifisme tersebut tidak sepenuhnya benar-benar terjadi. Juga ditanyakan mengenai pengaruh kelompok radikal. Menurut Din, kelompok radikal tersebut berkembang justru karena faktor global injustice dan Islamofobia sebagaimana juga berkembang di beberapa masyarakat barat. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads