"Tremor nonharmonik yang terekam kemarin adalah rentetan gempa vulkanik. Jadi gempa berulang-ulang seperti itu," kata Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana di Pos Pengamatan Gunung Agung Karangasem, Bali, Sabtu (14/10/2017).
Devy menjelaskan tremor yang terekam masih berdurasi pendek. Tremor tersebut belum menandakan aktivitas Gunung Agung mencapai klimaks.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tremor ini juga diikuti dengan bertambahnya asap solfatara yang keluar dari kawah Gunung Agung. PVMBG berharap intensitas keluaran asap solfatara itu meningkat sehingga mengurangi tekanan gas di dalam Gunung Agung.
"Kalau asap putih mengepul tebal seperti itu sebenarnya baik dan bagus. Sehingga tekanan di perut gunung terus habis. Bahaya justru jika tidak ada manifestasi fluida ke permukaan berupa asap tadi," ucap Devy.
Asap solfatara yang terus keluar juga mampu mengurangi jumlah kegempaan vulkanik. Namun hingga hari ini rata-rata kegempaan dari aktivitas Gunung Agung sebanyak 700-800 kali per hari.
"Kalau sekarang, gempa vulkanik masih sangat tinggi, bahkan gempa mencapai 907 kali per hari daripada saat pertama kali kita naikkan Gunung Agung ke status awas, yang rata-rata saat itu gempa vulkanik terjadi 360 kali per harinya," ungkap Devy. (dhn/dhn)











































