DetikNews
Jumat 13 Oktober 2017, 16:15 WIB

Suasana Haru Mualaf Tionghoa di Masjid Agung Annur Pekanbaru

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Suasana Haru Mualaf Tionghoa di Masjid Agung Annur Pekanbaru Foto: Chaidir Anwar Tanjung/detikcom
Pekanbaru - Suasana haru terlihat saat Supardi (36) warga Tionghoa mengucapkan syahadat usai salat Jumat (13/10/2017) di masjid Agung Annur Pekanbaru. Para jemaah pun berlinang air mata sembari mengucapkan selamat kepada Supardi.

Prosesi Supardi memeluk agama Islam ini dipimpin pengurus masjid Agung Annur, Dr Zulkarnain. Sebelum mengucapkan syahadat, Supardi yang disapa Adi ini, diminta untuk membacakan alquran surat Alfatiha dan kulhu yang diminta oleh pemandu.

"Saudara kita Supardi ini belum memeluk Islam sudah bisa baca surat pendek. Semoga ke depan semakin lancar membaca ayat suci alquran," kata Zulkarnain.

Selanjutnya prosesi pengucapkan syahadat pun dilaksanakan dengan duduk bersila. Wajah Adi sembari memegang mic pun terlihat mantap. Sejumlah jemaah masjid menyaksikan secara hikmat. Syahadat yang diucapkan Adi pun berjalan lancar. Setelah mengucap syahadat, Adi pria berkacamata ini pun berlinang air mata.

Adi pun berdiri menghadap para jemaah masjid. Teriakan takbir berulang kali menyambut Adi yang kini menjadi muslim. Bacaan syalawat pun berkumandang secara bersama.

Beriring-iringan jemaah masjid Agung Annur memberikan ucapan selamat. Para jemaah berlinang air mata saat memeluk Adi. Begitu juga Adi yang masih lajang ini, air matanya menetas di pipi.

Kepada detikcom, Adi menyebutkan, bahwa dia sudah mengenali Islam sejak dia kecil tinggal di Pekanbaru. Pria kelahiran Selatpanjang, Kab Meranti ini, menyebutkan, bahwa suara azan serta mengaji yang selama ini selalu dia dengarkan membuat hatinya tergugah untuk mempelajari Islam.

"Rumah saya di Pekanbaru ini dekat masjid. Sejak kecil saya senang dengarkan azan begitu juga mengaji. Kok rasanya Islam itu indah sekali," kata Adi mengenang masa lalunya.

Pun begitu, Adi memang tak buru-buru untuk mempelajarinya. Apa lagi dia terlahir dari keluarga Tionghoa. Dia hanya sekedar mengamati dari hari ke hari. Namun dorongannya untuk lebih jauh mempelajari Islam semakin dalam.

"Dua tahun terakhir, saya pun banyak belajar soal Islam ini. Akhirnya dalam dua bulan terakhir saya bertekad dengan banyak penuh pertimbangan, dan hari ini saya bersyahadat," kata Adi.

Bukan hal yang mudah baginya untuk menjadi mualaf. Anak pertama dari lima bersaudara ini, mengaku jika sikapnya memeluk Islam tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

"Orang tua saya lagi sakit, saya tak menceritakan hal ini pada mereka. Tapi saya sudah ceritakan pada adik-adik, mereka paham atas pilihan keyakinan saya," kata pria kelahiran 18 Oktober 1981 tersebut.

Adi juga mengaku, sebelum menentukan pilihan keyakinannya, dia juga sempat berkonsultasi pada pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Pekanbaru.

Ketua PITI Pekanbaru, Zailani yang turut hadir di acara tersebut, membenarkan jika Adi sempat menghubunginya.

"Sekitar dua bulan lalu, dia kenalan lewat telepon. Saya bilang lebih baik kita jumpa, dan ketika jumpa dia menceritakan keinginannya untuk menjadi mualaf," kata Zailani.

Masih menurut Zailani, pihaknya sempat membawa Adi untuk dua kali menghadiri acara pengajian keluarga besar PITI di Pekanbaru. Dalam catatan Zailani, ada 200 orang warga Tionghoa masuk dalam organisasi muslim Tionghoa.

"Dia datang untuk berkonsultasi, tapi intinya tekad dia sudah bulat. Alhamdulilah, hari ini sudah bersyahadat. Saya bisa merasakan bagaimana beban dia terhadap keluarganya. Tapi ya kita berdoa, semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik buat Adi," tutup Zailani.
(cha/tfq)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed