"Paling tiga lagu. Saya mikirnya lagu 'Bangun Pemudi-Pemuda', mungkin lagu 'Tanah Airku', dan ada satu lagi," jelasnya ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (12/10/2017) malam.
Addie mengaku diajak teman-teman relawan Ahok melalui grup WhatsApp beberapa hari lalu. Ia menyanggupi ajakan itu. Baginya, pemerintahan Gubernur DKI Jakarta secara estafet pada periode 2012-2017 ini sangat berkesan. "Saya ingin berterima kasih kepada Jokowi, Ahok, dan Djarot," ucap dia.
Ia meyakini dukungan melalui lagu dan konser merupakan sarana positif daripada marah ataupun memusuhi. Dukungannya kepada pemerintahan gubernur terpilih saat ini, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, juga tetap ia berikan.
Addie sendiri pernah menggelar konser atas inisiatifnya saat Djarot menggantikan Ahok, yang harus menjalani hukuman karena kasus penistaan agama. Konser itu ia gelar pada 10 Mei 2017 di Balai Kota DKI.
Terus terang, kata Addie, saat itu ia terpukul karena vonis bersalah Ahok. Menurutnya, selip lidah yang terjadi tidak bermaksud menghina umat. Justru selama ini Ahok tak pernah absen membangun masjid hingga memberangkatkan umrah.
Namun, daripada melampiaskan kekecewaan dengan amarah, ia memilih menggelar konser dadakan yang hanya ia persiapkan dalam dua hari. Ia merasa pasca-Pilgub DKI lalu, permusuhan melalui media sosial semakin memuncak.
Pesan WhatsApp yang ia sebarkan untuk mencari pengisi suara dalam kor disambut berbagai pihak. Pesertanya pun berasal dari seluruh Nusantara, bukan hanya dari Jakarta.
Kini, dengan konser penutup ini, dia berharap segala permusuhan dan kebencian bisa berhenti. Fokusnya, kata Addie, lebih memikirkan bangsa, transisi baik ke gubernur yang baru. (ayo/jat)











































