DetikNews
Kamis 12 Oktober 2017, 17:33 WIB

Menagih Janji Anies-Sandi, Warga Kembali ke Kampung Akuarium

Meilika Asanti Wahyudi - detikNews
Menagih Janji Anies-Sandi, Warga Kembali ke Kampung Akuarium Foto: Sumiati beserta suami dan anaknya sedang membangun bedeng (tempat tingal sementara) di Kampung. (Meilika/detikcom)
Jakarta - Warga Kampung Akuarium yang direlokasi ke rumah susun (rusun) kembali menempati lahan bekas rumah mereka yang digusur. Mereka mengharapkan janji pasangan Gubernur dan Wagub DKI terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang akan kembali membangun permukimannya.

"Berharap juga ke Pak Anies-Sandi. Saya percaya karena kita sudah ada kontrak politik. Dia janji tidak akan ada penggusuran tapi ada penataan," ujar seorang warga Kampung Akuarium, Sumiati (32) kepada detikcom di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (12/10/2017).

Sumiati beserta suami dan 5 anaknya sebelumnya tinggal di Rusun Kapuk Muara selama kurang lebih 1 setengah tahun. Namun dia kembali ke Kampung Akuarium membangun rumah semi permanen setelah Anies-Sandi memenangkan Pilgub DKI lalu.

"Sudah ada jalan terangnya (terkait rumah yang digusur), sudah nggak gelap lagi. Tadinya masih bimbang, mau bikin masih bingung takut digusur lagi," katanya.

Sumiati hanyalah satu dari beberapa warga Kampung Akuarium yang keluar dari rusun dan kembali membangun rumah di kawasan penggusuran tersebut. Kebanyakan warga mengaku kesulitan membayar ongkos sewa rusun.

"Sebulan di rusun aja Rp 175.000. Sama lampu dan air jadi sekitar Rp 350.000 per bulan," ujar Sumiati.

Sumiati mengaku belum pernah sempat membayar ongkos sewa rusun hingga dirinya kembali ke Kampung Akuarium. Dia juga sempat mendapat dua kali surat teguran dari pengelola rusun.

"Dapat dua kali surat teguran sama jumlah sewa rusun yang belun dibayar. Teguran pertama Rp 3.200.000, surat kedua hampir Rp 5.000.000. Jadi memutuskan dari pada buat rusun mending bikin bedeng (rumah darurat)," ungkapnya.

Sumiati mengaku kesulitan membayar rusun karena suami yang hanya bekerja sebagai nelayan. Dengan ongkos Rp 5.000.000 keluarganya sudah dapat membangun rumah darurat di kawasan Kampung Akuarium.

Sumiati juga mengaku pindah ke rusun waktu itu karena terpaksa. Dia bersama keluarganya sempat tinggal di atas perahu setelah rumahnya di Kampung Akuarium digusur.

"Saya pindah ke rusun karena mau selametan bikin nama anak kembar saya yang baru lahir. Karena terpaksa aja, nggak ada tempat. Kalau masih bisa tinggal di perahu, tinggal di perahu deh," ucapnya.
(nvl/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed