DetikNews
Kamis 12 Oktober 2017, 15:12 WIB

Begini Cara Rawat Kebinekaan Menuju Indonesia Emas 2045

Niken Widya Yunita - detikNews
Begini Cara Rawat Kebinekaan Menuju Indonesia Emas 2045 Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (Dok. MPR)
Jakarta -
Banyak cara untuk merawat kebinekaan tanpa meninggalkan karakter masyarakat Indonesia. Salah satunya menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita mempunyai kemampuan karena memiliki Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika untuk merawat kebinekaan tanpa meninggalkan karakter. Seperti yang terjadi di Myanmar, Palestina, dan Kosovo," ujar Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dalam keterangan tertulis dari MPR, Kamis (12/10/2017).

Hidayat mengatakan itu saat menyampaikan orasi kebangsaan 'Merawat Kebhinnekaan dan Memajukan Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045' pada acara seminar dan lokakarya nasional serta sosialisasi empat pilar MPR di hadapan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Graha Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) Jawa Barat, hari ini.

Acara ini dihadiri anggota MPR Thoriq Hidayat (Fraksi PKS), Rektor UMTAS Ahmad Qonit Ali Daud, Ketua DPP Muhammadiyah Dahlan Rais, dan 200 mahasiswa peserta sosialisasi.

Sosialisasi Empat Pilar MPR adalah tuntutan reformasi dan sesuai amanat UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) yang memerintahkan pimpinan MPR mensosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada seluruh rakyat Indonesia. MPR sudah melaksanakan sosialisasi ini dengan berbagai metode, seperti outbound, LCC, dan melalui seni budaya asli Indonesia.

Hidayat juga menjelaskan agama Islam tidak pernah mendikotomikan antara urusan dunia dan akhirat. "Para ulama pendiri bangsa belajar agama adalah juga untuk mengurus kehidupan berbangsa dan bernegara," paparnya.

Dia mencontohkan dasar negara Pancasila dan seluruh undang-undang dasar, dari UUD Tahun 1945 hingga UUD NRI Tahun 1945, menyebutkan bahwa negara ini didasari Ketuhanan Yang Maha Esa. Lebih lanjut diungkapkan, ketika bangsa ini merdeka pada 17 Agustus 1945, Pancasila yang ada adalah Pancasila yang disepakati pada 22 Juni 1945.

Pancasila disepakati oleh Tim 9. Empat anggota Tim 9 adalah Abikusno Tjokrosuyoso, Wachid Hasyim, Kahar Muzakir, dan Agus Salim. "Mereka adalah dari golongan Islam," ujarnya.

Dalam Piagam Jakarta tersebut, sila pertama Pancasila menyebutkan Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya. Namun, pada hari selanjutnya, utusan masyarakat Indonesia bagian timur yang beragama non-Islam menemui Mohammad Hatta untuk menyatakan keberatan atas sila pertama itu.

Setelah melakukan lobi-lobi, akhirnya keberatan itu diterima sehingga sila pertama Pancasila berbunyi seperti Pancasila saat ini. "Tokoh-tokoh Islam mengakomodasi keberatan itu," ujarnya.

"Sila pertama Pancasila yang disepakati akhirnya diterima semua kelompok," tambahnya.

Ditegaskan oleh Hidayat, sila pertama Pancasila itu menunjukkan dasar negara menyatakan adanya relasi atau hubungan antara negara dan agama. Dikatakan, pendiri bangsa ini memikirkan bagaimana kita mempunyai sebuah negara Indonesia merdeka tapi juga keberagamaan berjalan.

Dalam kesempatan itu, Hidayat mengungkapkan bangsa Indonesia pernah mengalami sejarah kelam, yaitu terjadi pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan G30/S/PKI. Setelah upaya PKI berhasil digagalkan, pada 1966 melalui Sidang MPRS dibuat satu Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.

Dalam akhir kata, Hidayat mengatakan, tantangan para pemuda sekarang sangat kompleks. Untuk itu, diharapkan dalam menjaga kebinekaan ini para pemuda, terutama mahasiswa Muhammadiyah, dapat menggunakan cara-cara yang pernah dilakukan para founding fathers dan mothers, yakni Pancasila.

"Kita harus mempelajari Pancasila dari keteladanan para pemimpin," kata politisi PKS ini.

(nwy/ega)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed