DetikNews
Kamis 12 Oktober 2017, 13:59 WIB

3 Jenderal Merapat, Golkar Berharap Limpahan Elektabilitas

Aryo Bhawono, Erwin Dariyanto - detikNews
3 Jenderal Merapat, Golkar Berharap Limpahan Elektabilitas Setya Novanto saat memimpin Rapat Pleno Golkar, Rabu (11/10/2017). Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar itu segera dimulai setelah Setya Novanto sang ketua umum tiba di ruangan. Mengenakan kemeja lengan panjang warna kuning seragam khas Partai Golkar, Novanto yang baru sepekan keluar dari rumah sakit itu terlihat semringah.

Setelah membuka rapat pleno, Setya Novanto mengumumkan masuknya 4 nama purnawirawan TNI dan Polri yang bergabung dengan Partai Golkar. Mereka adalah Letnan Jenderal (Purn) TNI Eko Wiratmoko, Irjen (Purn) Benny Mamoto, Komjen (purn) Anang Iskandar, dan Mayjen (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus.

Tepuk tangan membahana di ruang rapat pleno saat nama keempat jenderal purnawirawan itu disebutkan. Belakangan Benny Mamoto tak jadi masuk Golkar karena berstatus PNS. "Pak Benny nggak jadi karena masih PNS," kata Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/10/2017).

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Maman Abdurrahman mengatakan masuknya 3 pensiunan jenderal itu merupakan hasil komunikasi yang panjang. Partai Golkar memang sudah jauh hari menyiapkan mereka masuk kepengurusan DPP.

"Ini sebuah komunikasi panjang. Perencanaan ini sudah jauh-jauh hari disiapkan. Tapi timingnya yang pas ya sekarang ini dalam rangka revitalisasi struktur," kata Maman di tempat terpisah.

Dalam perjalanan Partai Golkar, sebelum era kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical) posisi sekretaris jenderal selalu diisi oleh orang berlatar belakang militer. Baru di era Ical sampai sekarang, kurang lebih 7 tahun, Sekjen Golkar dijabat politikus dengan background sipil yakni Idrus Marham.

Menurut Maman, ada plus minusnya ketika tak ada pensiunan TNI/Polri di jajaran elite Golkar. Politikus Golkar yang berasal dari keluarga TNI dan Polri tentu ingin ada perwakilan dari pensiunan dua institusi itu untuk memperluas jaringan.

Selain itu, sejarah pendirian Partai Golkar tak bisa dilepaskan dengan TNI. "Jadi sekarang ini Golkar kembali pada khitah," kata Maman.

Dia menambahkan bahwa sampai institusi yang masih memiliki semangat nasionalisme, pro-NKRI, menjadi garda terdepan dalam mengawal pancasila itu ada di TNI. Spirit inilah yang ingin diserap oleh kader Golkar dalam menjalankan partai.

Tentunya, hasil akhir yang diharapkan dengan bergabungnya tiga jenderal tersebut adalah naiknya elektabilitas Partai Golkar. "Saya yakin impact elektabilitas ada," kata dia.

Dua pensiunan jenderal itu menempati posisi penting di DPP. Letjen (Purn) Eko Wiratmoko didapuk sebagai Korbid Polhukam DPP Golkar menggantikan Yorrys Raweyai yang dicopot oleh Novanto.

Adapun Komjen (Purn) Anang Iskandar didaulat untuk memperkuat Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP Golkar. Sebelumnya sudah ada pensiunan jenderal yang masuk Golkar lebih dulu yakni, Letjen (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus.

Bersama 279 pengurus Golkar lainnya, pada 12 Agustus 2016 lalu Lodewijk Freidrich Paulus dilantik sebagai Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Kajian Strategis dan SDM.
(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed