Pengungkapan tabir itu terus dilanjutkan dalam kongres JIB kedua di Solo pada akhir 1927. Aturan ini mengundang decak kagum kaum gerakan nasional. Agus Salim menjadi pembebas dari belenggu tradisi dan generasi sebelumnya.
"Sekali lagi, perlu saya tegaskan bahwa pemisahan atau pengucilan kaum wanita bukanlah perintah agama Islam, melainkan hanyalah suatu adat di kalangan bangsa Arab," tulis Salim dalam artikel Cadar dan Harem dalam buku Seratus tahun Haji Agus Salim yang diterbitkan Sinar Harapan, 1996
JIB merupakan organisasi yang menyelenggarakan kursus pendidikan dan mempererat pemuda dan pelajar Islam Hindia Belanda. Organisasi ini berdiri pada 1 Januari 1925.
Inovasi Salim untuk membebaskan seseorang dalam perilaku tak hanya dalam soal agama. Setelah menikah, ia dan istrinya harus tinggal di rumah yang disediakan oleh pihak perempuan secara hukum adat di Kampung Gedang, Bukit Tinggi. Namun Salim menolak rumah ini, ia langsung membawa istrinya pergi ke rumah kontrakan.
Rekam jejak Agus Salim Foto: Andhika Akbariansyah |
Sukarno, dalam Surat-surat dari Endeh mengomentari tindakan Agus Salim merobek kain tabir pemisah lelaki dan perempuan. Ia menyebut pemasangan tabir sebagai simbol perbudakan yang tidak dikehendaki oleh Islam.
"Di dalam pandangan saya, perbuatan beliau itu adalah perbuatan yang lebih besar dari misalnya daripada menolong pahlawan dari air laut yang sedang mendidih atau masuk penjara karena delik sekalipun. Sebab perbuatan demikian itu minta keberanian moril yang besar."
Sejarawan UI Rushdy Hoesein mengungkap keislaman Agus Salim dilandaskan oleh akal sehat. Ia belajar Islam setelah menjalani pendidikan barat. Setiap ajaran selalu ditimbangnya dengan ilmu pengetahuan.
"Beliau lain dari yang lain, menjalani ritual agama menurut akal beliau," ujarnya ketika berbincang dengan detik.com, Minggu (8/10/2017).
(ayo/jat)












































Rekam jejak Agus Salim Foto: Andhika Akbariansyah