Warga Kooperatif, Listrik Tidak Padam Senin Malam

Warga Kooperatif, Listrik Tidak Padam Senin Malam

- detikNews
Selasa, 24 Mei 2005 02:08 WIB
Jakarta - Hore! Tidak ada listrik warga yang byar pet pada Senin malam 23 Mei 2005. Hal itu dikarenakan warga kooperatif mengurangi pemakaian listrik.Semula PLN berencana memadamkan listrik secara bergilir di Jawa-Bali mulai 23 Mei hingga 6 Juni 2005. Hal itu diakibatkan adanya pekerjaan penyambungan pipa gas di PLTGU Muara Karang dan Tanjung Priok.Namun pemadaman bergilir bisa dihindari jika setiap pelanggan mengurangi pemakaian listriknya sebesar 50 watt, atau mematikan sekurang-kurangnya dua buah lampu masing-masing 25 watt pada pukul 19.00 hingga 22.00.Nah, imbauan dari PLN agar warga menghemat pemakaian listrik ini ternyata jitu. Terbukti pada hari perdana tidak dilakukan pemadaman listrik.Hal ini disampaikan Direktur Utama PT PLN Eddie Widiono kepada wartawan usai diperiksa di Kejaksaan Agung, Jalan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Senin (23/5/2005)."Saya dengar tercatat 13.800 watt di bawah perkiraan kita. Kami berterima kasih kepada masyarakat yang telah membantu PLN dalam melaksanakan tugasnya menyediakan listrik sehingga tidak sampai terjadi pemadaman," katanya.Dituturkan Eddie, kabar mengenai tidak dilakukannya pemadaman oleh PLN diterimanya saat sedang diperiksa tim penyidik Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi pemberian dana tantiem alias bonus terhadap direksi dan komisaris PLN senilai Rp 4 miliar yang terjadi tahun 2003 ketika PLN sedang merugi senilai Rp 3 triliun."Ini contoh bahwa kami sebagai penyedia dan konsumen bisa bekerja sama untuk mengefisienkan penyediaan tenaga listrik di Indonesia," ujarnya bangga.Jika masyarakat sebagai pelanggan bisa mengurangi beban seperti yang terjadi pada Senin malam, lanjut dia, maka untuk seterusnya tidak akan terjadi pemadaman. "Jadi lagi-lagi kami imbau pelanggan untuk menghemat supaya tidak terjadi pemadaman," kata Eddie.Dijelaskan dia, pasokan BBM sekarang mahal, padahal PLN sudah meminta kepada Pertamina untuk memasok sejumlah 11 juta kiloliter BBM. Namun Pertamina hanya menyanggupi 8,4 juta kiloliter."Sisanya harus kita beli dengan harga luar negeri atau harga pasar. Kalau sekarang kita beli Rp 2.200 per liter pada perkiraan US$ 35, kalau US$ 50 sekitar Rp 4.000 per liter. Itu di luar rencana kami, Pertamina dan menambah beban pemerintah," urai Eddie. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads