Golkar: OTT KPK Pengaruhi Elektabilitas Partai

Golkar: OTT KPK Pengaruhi Elektabilitas Partai

Hary Lukita Wardani - detikNews
Sabtu, 07 Okt 2017 14:40 WIB
Golkar: OTT KPK Pengaruhi Elektabilitas Partai
Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemenang Pemilu Indonesia I DPP Partai Golkar Bobby Adhitio Rizaldi mengungkapkan adanya OTT yang dilakukan KPK mempengaruhi elektabilitas partai. Untuk itu, ia mengatakan Golkar akan lebih selektif dalam menjaring calon anggota legislatif yang akan mendaftar.

"Memang di tahun politik seperti ini kerja partai untuk meningkatkan elektabilitas memang sangat berpengaruh terhadap hal-hal yang sifatnya seperti tadi, OTT, atau pelanggaran-pelanggaran tersebut," ujar Bobby di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/10/2017).

Bobby juga menuturkan, dalam pencalonan legislator nanti, akan dipilih calon yang memiliki kapasitas elektoral. Juga politisi yang berintegritas agar menjadikan partai lebih baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam mapping pencalegan itu, dari 300 persen dari jumlah kursi, kita sedang siapkan dan kita sedang sisir yang berintegritas memiliki kapasitas elektoral yang kuat dan juga nantinya bisa membawa citra partai menjadi lebih baik daripada sekarang," jelasnya.

Anggota Komisi I DPR ini juga menuturkan Golkar sempat mengalami penurunan elektabilitas dari berbagai lembaga survei pada 2016. Seperti pada survei SMRC yang baru rilis, Golkar mendapatkan angka 11,4 persen.

"Efek itu ada, tapi alhamdulillah kami masih bertahan," ucap dia.

Sebelumnya, Korbid Penerangan Ormolu I Nusron Wahid mengatakan Golkar saat ini perlu bercermin. Sebab, dalam kurun satu bulan, ada 7 kadernya yang tertangkap KPK.

"Partai Golkar perlu refleksi total mengenai perilaku politik kader. Ini kan dalam waktu 1 bulan, 7 yang ketangkap KPK. Karena itu, kita perlu reflektif dan perlu koreksi total supaya partai ini betul-betul mencerminkan kehendak dan aspirasi daripada rakyat," tutur Nusron.

Nusron mengingatkan Golkar punya jargon 'Suara Golkar, Suara Rakyat'. Karena itu, Nusron berharap Golkar mau mendengar suara rakyat yang ingin parpol di Indonesia bebas korupsi dan pro-pemberantasan korupsi.

Dia menyebut manajemen pengelolaan partai perlu dibenahi. Tujuan politik Golkar perlu diperjelas, menurutnya.

"Ada yang salah dalam maksud dan tujuan berpolitik mencapai kekuasaan. Kok sampai kemudian 7 orang dalam sebulan (kena tangkap KPK). Tidak partai lain lho sebulan 7, rekor itu, naudzubillah," ucap Nusron. (lkw/jor)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads