Masih di AS, Hendropriyono Batal Diperiksa TPF Jumat
Senin, 23 Mei 2005 17:43 WIB
Jakarta - Tidak gampang memang bagi TPF (Tim Pencari Fakta) kasus Munir memeriksa para mantan pejabat BIN (Badan Intelijen Negara). Rencana TPF memeriksa mantan Kepala BIN AM Hendropriyono pada Jumat (27/5/2005) juga batal. Gara-garanya, Hendro masih di Amerika Serikat (AS). Hal ini terungkap seusai TPF Kasus Munir melakukan rapat internal di Kantor Komnas Perempuan, Jl. Latuharhari, Jakarta Pusat, Senin (23/5/2005). Rapat yang berlangsung dua jam dan berakhir pukul 16.15 WIB itu membahas sejumlah hal. Wakil Ketua TPF Asmara Nababan menjelaskan, rapat TPF membahas berbagai kegiatan pada pekan ini dan pekan depan. Agenda pekan ini, TPF akan bertemu Kapolri untuk menyampaikan rekomendasi-rekomendasi sebagai upaya mempercepat penyelidikan kasus pembunuhan Munir. Selain itu, TPF juga berencana memanggil kembali mantan Sekretaris Utama BIN Nurhadi Jazuli. "Tetapi, waktunya sampai sekarang masih kami negosiasikan dengan BIN," ungkap Asmara. TPF juga telah memiliki rencana memeriksa mantan Deputi V BIN Muchdi PR. Tapi, Muchdi baru akan dipanggil pada pekan kedua bulan Juni 2005. Lantas bagaimana dengan pemanggilan Hendropriyono? Asmara mengaku pemeriksaan Hendro ditunda dan belum pasti kapan pemeriksaan akan digelar. "Kami masih akan memrioritaskan orang-orang yang sudah jelas dulu," jelas dia. TPF memiliki kendala berat untuk memeriksa Hendropriyono? "Bukan kendala. Sekarang kita masih mempersiapkan informasi-informasi awal terlebih dulu, agar nanti dalam pemeriksaan, data-data yang kita perlukan bisa didapatkan," ujar dia. Namun di tempat yang sama, anggota TPF Hendardi memberikan informasi terkait batalnya pemeriksaan Hendro itu. "Pemeriksaan terhadap Hendro tidak bisa dilakukan, karena masih di AS," jelas dia. Sementara itu, ketika ditanya mengenai apakah sudah ada hubungan antara kematian Munir dengan peranan BIN, Asmara mengaku untuk memastikannya, itu tugas penyidik Polri. "Itu tugas penyidik. Bukan tugas kami. Kami tidak punya kewenangan menahan atau menyita dokumen, meski itu sangat penting bagi kami. Yang bisa kami lakukan, kami bisa membuktikan bahwa ada hubungan Pollycarpus (tersangka) dengan BIN," terang Asmara. Sampai sekarang, TPF Munir juga belum menemukan motif pembunuhan Munir tersebut. "Itu nanti belakangan saja. Soalnya 23 Juni 2005, tugas TPF akan selesai. Nanti kita akan menyampaikan laporan lengkap ke Presiden dan motif itu akan kami sampaikan," kata mantan anggota Komnas HAM itu.
(asy/)











































