Cerita Anak Penjual Kopi Keliling Hampir Gagal Ikuti Kampanye WHO

Cerita Anak Penjual Kopi Keliling Hampir Gagal Ikuti Kampanye WHO

Mei Amelia R - detikNews
Jumat, 06 Okt 2017 17:46 WIB
Cerita Anak Penjual Kopi Keliling Hampir Gagal Ikuti Kampanye WHO
Purwati, ibu Monica, bersama petugas Dinsos DKI (Istimewa)
Jakarta - Monica (15) mendapat undangan dari World Health Organization (WHO) di Ottawa, Kanada. Anak penjual kopi ini hidup terpisah dengan ibunya, Purwati, yang berada di Jakarta.

Monica kini tinggal di Yogyakarta. Karena belum memiliki KTP, administrasi keberangkatannya ke Kanada pun harus dilakukan oleh Purwati. Dia juga diminta menandatangani persetujuan pengiriman Monica ke Kanada.

Karena itu, Purwati diminta datang ke Kedubes Kanada untuk menandatangani persetujuannya dan visa Monica. Persoalannya, tak ada orang yang tahu keberadaan Purwati karena wanita ini kerap tinggal berpindah-pindah. Selain itu, visa keberangkatan Monica harus diteken dalam kurun setengah hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Farid Ari Fandi, relawan Tim Reaksi Cepat Kemensos, menceritakan pengalaman tersebut. Dia bersama tim dari Dinas Sosial DKI Jakarta mencari Purwati di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

"Ibunya berjualan kopi di wilayah Senen. Sedangkan dia dua jam lagi harus menandatangani visa di Kedubes Kanada," kata Farid kepada detikcom, Jumat (6/10/2017).


Dia mengatakan batas waktu dua jam tersebut karena pengumuman diundangnya Monica oleh WHO datang secara mendadak. Jika batas waktu itu lewat, Monica bisa gagal untuk berangkat ke Kanada.

Purwati akhirnya ditemukan di Jalan Kramat Pulo, Senen, Jakpus. Dia berjualan kopi bersama adiknya.

Setelah diberi penjelasan, Purwati bersama Farid dan pegawai Dinsos menuju Kedubes Kanada di kawasan Kuningan, Jaksel.

"Kita dibantu sopir taksi yang mau secara ikhlas mengantarkan ke Kedubes Kanada. Sebelum naik, kami ceritakan kondisinya. Dan bapak itu paham, berjuang di kemacetan mengejar limit jam 12.00 WIB," cerita dia.

Suasana tegang di dalam taksi campur baur karena kondisi lalu lintas saat itu. Sopir taksi mengatakan akan berusaha tiba di lokasi sebelum batas waktu habis.

Sesampai di Kuningan City Mall, sopir taksi sempat salah masuk gerbang karena tak ingin penumpangnya telat menandatangani visa di Kedubes Kanada. Dalam kondisi itu, sopir sempat emosi karena pihak keamanan mal berperingai kasar.

"Akhirnya ibunya Monica berhasil tiba. Jadi ibunya menandatangani visa di Kedubes Kanada untuk Monica. Kalau waktunya lewat, Monica tidak bisa ke Kanada," ujar dia.

Monica terpilih menjadi narasumber untuk hadir dalam pertemuan The WHO 8th Milestone of Global Campaign for Violance Prevention di Ottawa, Kanada. Monica adalah perwakilan yang dikirimkan oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik, partner Save the Children di Indonesia.

Monica terpilih sebagai perwakilan dari Indonesia karena mengirimkan tulisan mengenai pengalaman kekerasan yang pernah dialaminya.

Pertemuan global di WHO itu sendiri diselenggarakan pada 19-20 Oktober 2017. Pertemuan tersebut bakal dihadiri perwakilan anak, pemerintah, dan NGO sedunia. (jbr/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads